Klimaks
Ada yang aneh dengan negeri ini
Sesuatu yang harusnya terselesaikan, malah semakin rumit terbengkalai
Kebenaran tenggelam, sulit tuk ditemukan
Yang baik bungkam, yang buruk melambung tinggi tertiup kebencian
Ada yang lebih kencang dari angin topan
Ada yang lebih panas dari matahari
Ada yang lebih dingin dari es
Pernahkah belajar fisika?
Gesekan memiliki dua sisi berbeda
Ada kalanya menguntungkan
Ada kalanya merugikan
Kebingungan atas keberpihakan
Membuat nurani terjerembab pada ketidak pastian dan ketakutan
Hanya takut salah menempuh jalan
Hanya takut salah memilih pengemban amanah
Rakyat menjerit, namun sekitar seakan tuli
Terbius argumen sendiri
Ego dilambungkan
Keadilan diduakan
Lalu, akan menuntut keadilan pada siapa rakyat ini?
Mengapa demonstrasi mengudara?
Mengapa sumpah serapah menjadi senjata?
Mengapa kebencian merajalela?
Jawabnya ada pada jiwa
Sudah sepeduli apakah pada Indonesia?
Apa hanya merenggut kenyamanan dan kebebasan semata?
Kebahagiaan bukankah tidak akan lama?
Kebermanfaatan untuk sesama adalah yang utama
Wahai, pemimpin
Wahai, pengemban amanah
Wahai....
Kemana lagi rakyat harus mengadu?
Apa harus meminta belas kasihan tetangga?
Andai tak mampu, katakan saja
Tolong jangan bersembunyi dibalik manisnya kata
Rakyatmu ini butuh rengkuhan
Bukan ancaman
Bukan tekanan
BUKAN!!!!!!!!
Kemarilah, kembali pada yang Esa
Berhentilah, berhenti merasa
Tenggelamkan ego hingga ke dasarnya
Jangan biarkan muncul ke permukaan dan tumbuh subur
Yang kuat bukan mereka yang menang karena egonya
Tapi yang kuat, ialah mereka yang mampu meredam amarahnya
Kembalilah, kembalilah
Ulurkan tangan, rendahkan hati, dan kembangkan senyum
Berhentilah, berhentilah
Berhenti membenci dan berhenti mencaci
Jayanti, 16 januari 2017
Ini tentang dirimu, hidupmu, mimpimu, tujuanmu. ketika sebaik-baik pengharapan adalah Allah begitu pun sebaik-baik tempat kembali. karena dirimu ada di dunia ini untuk menebar manfaat bagi sekelilingmu. Jika kau tak mampu menerjang ombak, setidaknya kau mampu membuat perahu. kau tidak akan terus menerus berada di lautan tenang, karen hidup nyatanya perlu berjuang. Ini tentang bagaimana kita mencintai hidup :'')
Selasa, 17 Januari 2017
Selasa, 22 November 2016
Kau, iya kau~
Hari berdendang, mengurai riang. Langit berseri, mengunjuk gigi. Ah, aku lupa, bukankah langit tak punya gigi? Tanah berdering membunyikan nada sendunya. Apa sendu menguntai dering? Fiuhhh, aku lupa! Tidak, sendu tidak berdering, namun sendu merintih perih. Namun tidak begitu dengan apa yang kau rasakan. Sendu justru tak pernah mempunyai ruang diharimu, senyum selalu hangat kau bagi. Rasanya ingin kumiliki senyum itu sepenuhnya, ingin kuraih ceria itu seutuhnya, iya, ingin! Bahkan sangat ingin. Tapi apa pantas? Seseorang sepertiku yang menggenggammu?
Tatapanmu tajam, menggugah siapa saja yang menatapmu, terutama aku. Tak banyak kata yang kau ucap, namun tindakanmu sudah berlaku sebagai isyarat. Tahukah? Kau selalu baik padaku, tanpa sapa, namun dari sikapmu aku mengerti. Ada cinta dihatimu, kau tak ungkap itu. Bagaimana aku bisa mengerti? Lagi-lagi tatapanlah yang berbicara. Ah, bagaimana akan aku untaikan ini lewat kata, sementara cinta itu tak pernah terucap sebenarnya.
Aku mengenamu tanpa sebuah perencanaan, perkenalan yang datar. Seiring berjalan waktu sajalah aku memahamimu. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah peduli awalnya kepadamu dan sikapmu, aku tak acuh. Entah aku pun tak ingat bagaimana sikapku dahulu terhadapmu. Yang jelas, yang aku tahu sudah sejak lama aku mengenalmu dan kau mengenalku. Sudah kulewati perjalanan panjang bersamamu. Sungguh, aku tak pernah meminta apa pun kepadamu. Namun, kau selalu memberikannya. Tanpa terima kasih aku selalu menerimanya. Salahkah aku?
Bergantinya hari selalu teriring sejarah, cintamu tak pernah berkurang atau bahkan menghilang. Namun aku? Aku terlalu naif untuk menyatakan bahwa aku mencintaimu. Karena bagiku itulah sebuah kegugupan. Aku selalu ragu mengungkapnya. Sampai daun pun mendesakku, angin merayuku, langit menghentakku. STOP! Aku belum berani! Tolong jangan paksa aku untuk mengatakannya, karena kufikir ini tak bisa kuungkap dengan kata. Ini masalah beningnya rasa, sudahlah... Jangan biarkan ia keruh akhirnya.
Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau sayangi, aku tahu. Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau istimewakan, iya aku tahu. Ada ia, wanita yang lebih kau cintai dan istimewakan. Namun sejujurnya, tak pernah terbesit istilah cemburu di hati ini. Aku selalu mencintaimu, bahkan kau pun begitu. Apa aku marah kepada wanita itu? TIDAK! Aku justru begitu menyayanginya, aku mencintainya sebagaimana yang dilakukanmu. Mungkin ini terdengar bodoh, namun lebih bodoh lagi jika aku tak mencintai wanita itu. Kau yang selalu mengajariku untuk mencintai sesama, yang menarikku dari keterpurukan hariku. Mentari memang hangat, namun hangat itu lebih berharga saat aku disampingmu. Kau memang tak pernah mengatakan bahwa kau selalu mendo’akanku. Namun do’amu selalu berhembus lembut dihidupku, dan aku rasakan itu.
Senja beranjak dari peraduannya, menggeliat keluar dari tempatnya bersemayam, apa ia bosan disana? Tidak! Memang seharusnya ia ada di langit jingga di setiap sore merona. Kau bangkit dari letihmu, tanpa keluh kau kayuh perlahan hari. Berjalan gagah dengan sarung kotak-kotak sebagai bawahan menghadap Rabb dengan panggilan lembut adzan yang sayup-sayup terdengar samar dari ujung kampung. Tak lama suara lembut nan merdu terdengar di mushola kumuh yang kau buru. Iya, perjalananmu kau tujukan ke mushola itu. Aku terpejam, menghayati tiap-tiap bait lantunan cinta yang kau suarakan. Suaramu meresap sebagai panggilan hati, menggali naluri bathin yang berkecamuk misteri, melerai kepenatan di setiap hari yang telah dijalani. Iya, diujung hari selalu menuai senyum di bibir ini. Tidak hanya senja yang kau sapa dengan merdu lantunanmu. Gelap dan dinginnya subuh pun kau sapa dengan gembira. Layakkah kau kuabaikan?
Perjuanganmu untukku tak pernah sampai pada titik pemberhentian. Aku pun bingung sebenarnya apa yang kau tuju. Aku hanya takut menuai kecewa atas cinta yang kau beri. Terlebih cinta kepada wanita itu yang selalu ku tata dan ku resapi. Tanyaku, apa aku bisa bertahan tanpa cintamu? Apa wanita itu akan selamanya mencintaiku jua? Atau hanya aku yang terlalu takut cinta itu pudar? Bukan! Yang aku takut adalah aku tersesat tanpa arah, aku bimbang tanpa tujuan dan akhirnya ia kecewa. Fiuuhh, biarlah aku beristirahat sejenak dari lelah ini. Iya, aku tahu dan aku mengerti kini. Bahwa berjuang itu lelah, begitulah kau menasihatiku dengan perjuangannya terhadapku. Biarlah, biar saja kau menjatuhkan cinta secinta-cintanya pada wanita itu. Aku tak bersedih, aku bahagia bahkan saaaaaangat bahagia. Terlepas dari belenggu perjuanganmu yang sebenarnya aku bingung tuk membalasnya. Sapaku mungkin tak selalu sampai, namun do’aku untuk kebaikanmu dan wanita itu selalu teruntai. Sudahlah, sudah biarkan akau meresapi diri ini, karena bergantung pada cinta dan perjuanganmu saja hanya kan membuatku tak pernah berkembang menjadi aku. Biarlah aku bahagiakanmu dengan caraku. Kau yang selalu mencintaiku, kau yang membuatku paham akan arti cinta itu sebenarnya, kau dengan suara merdu adzanmu, kau yang berkeringat namun selalu taat, kau hebat, kau x-man sejati. Kau yang tak pernah kusadari perjuangannya, lelaki super yang melebihi super dede. Ah, andai saja aku mampu mengungkap cinta ini kepadamu yang diam-diam dari jauh selalu menghadiahkan cinta dan sapanya untukku. Teruslah bahagia dan cintai wanita itu, wanita yang melahirkanku dan mendidikku di madrasah pertama. Kau, iya kau AYAH, Aku mencintaimu~
Minggu, 20 November 2016
Tentang Mentari dan Hujan
Inginkah jadi mentari? atau kau lebih memilih hujan?
Coba jangan tanyai aku, karena aku mencintai keduanya..
kenapa tak kau beri pilihanku senja? atau karena kau tahu senja telah tenggelam?
tolong, tolonglah alam ini, alamku dan alamnya ...
_biarkan aku beranjak!!!
21 November 2016
Inginkah jadi mentari? atau kau lebih memilih hujan?
Coba jangan tanyai aku, karena aku mencintai keduanya..
kenapa tak kau beri pilihanku senja? atau karena kau tahu senja telah tenggelam?
tolong, tolonglah alam ini, alamku dan alamnya ...
_biarkan aku beranjak!!!
21 November 2016
Selasa, 15 November 2016
Pernahkah merasa rindu?
Hati menyapa namun kata tak sampai.. jiwa mendekat, namun raga tak erat..
Pernahkah merasa rindu?
Apakah pahit dengan rasa menggigit? ataukah sebuah asa lewat saja di depan mata..
Gumpalannya mengeruh, menyeruak keluar dari kalbu.. apa yang harus dinikmati?
Ah, kau benar. merasakan rindu itu sakit. Kau benar, menikmatinya itu pahit
deru semangat terlalu bising mencocok telinga. hati tergores keinginan raga
tanyaku, apakah rindu sembuh dengan jumpa? benarkah ia obatnya?
-Diujung_
15 November 2016
Hati menyapa namun kata tak sampai.. jiwa mendekat, namun raga tak erat..
Pernahkah merasa rindu?
Apakah pahit dengan rasa menggigit? ataukah sebuah asa lewat saja di depan mata..
Gumpalannya mengeruh, menyeruak keluar dari kalbu.. apa yang harus dinikmati?
Ah, kau benar. merasakan rindu itu sakit. Kau benar, menikmatinya itu pahit
deru semangat terlalu bising mencocok telinga. hati tergores keinginan raga
tanyaku, apakah rindu sembuh dengan jumpa? benarkah ia obatnya?
-Diujung_
15 November 2016
Sabtu, 05 November 2016
sebelumya perkenalkan dulu nih. Saya Riska Nurlita, mahasisiwi Pendidikan Kimia Semester satu dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. mungkin anda bertanya-tanya mengapa saya memilih kimia sebagai pilihan untuk melabuhkan diri di dalamnya. Hmmmm... ini dia jawabannya:
=> KIMIA IS FUN
=> KIMIA IS GOOD
=> KIMIA IS LIFE
=> KIMIA IS LOVE
and.........
=> KIMIA IS CHEMISTRY <3
Gak percaya? mau tau sensasinya? masuk ajj ke jurusannyaaa , yyuukkkk .
quote:
"Biologi itu tentang sesuatu yang hidup, fisika itu tentang sesuatu yang mati, dan kimia tentang hidup dan mati"
-bu Nanda-
Minggu, 23 Oktober 2016
Alasan kenapa kita harus menulis :
* Menulis adalah tradisi ummat islam
* Agama islam disebarkan dengan pena
* Menulis adalah jalan perjuangan
* Menulis memperpanjang usia kita
* Menulis membuatmu bahagia
-ka Agus Arie Wibowo-
Wahai pewaris peradaban, jika kau tak punya senjata untuk taklukan dunia, maka kau punya pena agar kau dikenal dunia. Namamu abadi dibanyak hati, ilmumu bermanfaat meski kau telah meninggal nanti. Jadilah pekarya bukan pekerja! karena pekarya adalah ia yang bekerja dengan hatinya. Menulislah! karena menulis adalah terapi. Menulislah! karena menulis adalah seni. Menulislah! karena menulis adalah panggilan hati. Menulis adalah jalan yang panjang, maka kita harus punya energi yang kuat untuk melaluinya :)
Inspirasi sederhana di pertemuan perdana (23 Oktober 2016)
Yuk Menulis!
Minggu, 11 September 2016
Gelak Hati...
Mencintai keadaan itu indah..
Mencoba mengusir segala apa yang tak baik difikir
Mengais remah-remah yang tersisa. meski hanya beribu duka bergaris derita.
Resah, lemah dijiwa hanyalah sebagai pelengkap rasa. karena mereka hanyalah pengundang lengah
tak lagi indah, apa yang dahulu mengindahkan..
potret kusam tak bercahaya
Memudar dan tak terpancar..
Ombak hanyalah menjadi debu, angin-angin hanyalah menjadi sampah
Kenangan hanyalah sebuah memori syahdu
Yang akan terdendangkan dikala bulan dan bintang beradu..
Air mata kadang hanyalah saksi bisu.
Tak, tak bisa menguak apa yang terpendam..
Terhantam, terseok, karam..
Gelombang ini terlalu tinggi.. sinar ini terlalu terang.. Dan hati ini terlalu lemah..
Hidup tak terarah, dan keadaan menjadi amarah..
Mencoba mengusir segala apa yang tak baik difikir
Mengais remah-remah yang tersisa. meski hanya beribu duka bergaris derita.
Resah, lemah dijiwa hanyalah sebagai pelengkap rasa. karena mereka hanyalah pengundang lengah
tak lagi indah, apa yang dahulu mengindahkan..
potret kusam tak bercahaya
Memudar dan tak terpancar..
Ombak hanyalah menjadi debu, angin-angin hanyalah menjadi sampah
Kenangan hanyalah sebuah memori syahdu
Yang akan terdendangkan dikala bulan dan bintang beradu..
Air mata kadang hanyalah saksi bisu.
Tak, tak bisa menguak apa yang terpendam..
Terhantam, terseok, karam..
Gelombang ini terlalu tinggi.. sinar ini terlalu terang.. Dan hati ini terlalu lemah..
Hidup tak terarah, dan keadaan menjadi amarah..
Wahai hati, tolong mengerti. keadaan adalah tempat terfakta.. hadir disetiap nafas dan raga..
Maka, enyahkanlah kegalauan~
Langganan:
Postingan (Atom)


