Senin, 04 September 2017

Ketika Jilbab Menjuntai Indah
 
Akhwat : “Masya Allah. Kamu cantik banget pake kerudung gede. Pengen deh kaya kamu.”
Ikhwan : “Masya Allah ukht, adem banget anti pake pakaian syar’i”
Ini komentar orang-orang sekitar saat melihat akhwat yang memakai pakaian syar’i, dimana jilbab dan kerudung yang menjuntai indah membuat seorang akhwat menjadi lebih anggun. Sekilas tidak ada yang salah dengan dua komentar di atas, baik komentar dari akhwat yang lain maupun dari ikhwan. Karena faktanya, memang akhwat yang berpakaian syar’i terlihat jauh lebih anggun. Eittsss. Tapi jangan salah, komentar di atas bisa saja jadi masalah buat orang yang bersangkutan (si akhwat yang jadi objek). Lho kok, gitu? coba cek, dua kalimat itu mengandung pujian, yang secara hakikatnya jika itu ditujukan pada pada seorang akhwat akan sangat mengganggu keimanannya. Pujian sebenarnya adalah sebuah ujian, dalam konteks ini akhwat yang dipuji akan senantiasa diuji keimanan serta niatnya dalam berpakaian syar’i. Ia harus senantiasa mempertahankan niatnya lillah. Tahukah sahabat? Ini saaangat tidak mudah. Hati seseorang yang telah dipuji biasanya akan mengharapkan pujian itu terulang. Sungguh hal ini tidak bisa dipungkiri. Namun tentunya bagi seorang muslimah yang senantiasa menjaga iffahnya, ia akan selalu berusaha untuk menghindarkan perasaan senang dipuji dihatinya, dan inilah tantangan terberat baginya.
Ada akhwat yang dipuji ia hanya membalasnya dengan senyuman saja, ada pula yang membalasnya dengan perkataan halus “ ‘afwan, saya tidak sebaik yang antum kira”, bahkan ada pula yang bersedih hati ketika mendapat pujian itu. Wallahu a’lam. Lalu bagaimanakah sebenarnya yang harus seorang akhwat lakukan? Tetaplah perbaiki niatmu ukht, jangan sampai pujian menjerumuskanmu pada kenistaan, jangan sampai ia yang mengikis pahala amalanmu yang awalnya kau niatkan sungguh-ungguh karena Allah. Berhentilah berhias hanya karena ingin terlihat cantik di mata orang. Tetapi lebih jauh dari itu, jilbab dan kerudungmu adalah kemuliaanmu yang akan engkau pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Ukhty..
Jilbabmu yang akan menjadi saksi ketaatanmu pada Rabbmu
Kerudungmu yang akan menjuntai pahala dalam balutan cahaya yang memancar dalam dirimu
Keelokanmu adalah buah dari ketaatanmu
Keanggunanmu adalah hadiah dari keberanianmu menghardik rasa malu
Mereka yang mengagumimu hanyalah sebagai pembangkit motivasimu
Sesungguhnya hanya Allah yang tahu isi hatimu
Ukhty...
Bagian dari hatimu bukankah telah kau isi dengan cinta-Nya?
Maka jangan rusak ia dengan pujian yang sebenarnya adalah sebuah ujian
Ingatlah, ini adalah kewajiban yang hadiahnya bukan pujian
Melainkan suatu keridhoan Allah yang akan menjadi sebuah bingkisan
Allah tahu ukht, Allah tahu..
Allah tahu kesakitanmu menuju jalan-Nya
Allah tahu letihnya perjalananmu menggapai hidayah-Nya
Allah tahu, maka jangan rusak itu dengan terlena akan pujian abstrak yang fatamorgana
(RN)
Sahabatku, mari perbaiki niat, terus perbaiki. Biarlah jilbabmu menjuntai indah seindah keimananmu. Anggap saja pujian itu sebagai cambukan bagimu untuk semakin menambah amalmu.
           “Sudah berjilbab, tapi kok kelakuannya begitu?”, nah lho, tadi dipuji sekarang dicaci. Namanya juga manusia, mau kita melakukan hal-hal baik sekali pun, pasti ada saja yang berkomentar negatif. Maka dari itu sebagai manusia yang strong, harus punya telinga tebal, hati yang kuat dan emosi yang terkontrol. Yaaa kalau ada yang mencaci dengan berkomentar negatif kaya begitu tinggal disenyumin aja. Saudaraku, ingat akhlak dengan jilbab adalah dua hal yang saaaaaangat jauh berbeda. Ia yang berjilbab tidak menjamin akhlaknya baik. Sederhananya begini, jilbab adalah kewajiban yang mutlak datangnya dari Allah, sementara akhlak adalah kepribadian yang dimiliki masing-masing orang. ia yang berjilbab namun akhlaknya masih kurang, jangan dicaci, nasihati dan biarlah dia memperbaiki diri, karena hakikatnya jilbab adalah sebuah nasihat agar senantiasa memperbaiki diri. Telah jelas dalam al-qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “......dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.....” (QS An-Nur:31)
              Ini adalah bukti bahwa jilbab yang menutup dada adalah murni perintah Allah, sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, sementara akhlak adalah sesuatu yang kapan saja bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu. Bukankah jika telah kita jalankan kewajiban kita, maka akhlak akan mengikuti dengan sendirinya? Jilbab menjadi reminder agar senantiasa melakukan hal-hal baik. Ketika hendak membicarakan orang lain, hati mengingat “malu sama jilbab”, begitu seterusnya. Tenang ukht, ini bukan soal munafik atau apa, namun ini adalah bagian dari sebuah usaha mempertahankan keimanan serta keyakinan dalam diri.
               Mulai sekarang, yuk jaga lisan, ingat bahwa bukan kamu saja yang punya lisan. Orang-orang sekitarmu juga punya lisan, maka mereka bisa saja membicarakanmu kapan saja. Karena setiap suaramu adalah gema yang bunyinya akan kembali lagi pada dirimu. Berhati-hati terhadap lisan, berhati-hati terhadap sikap, alangkah indah jika kita menjadi agen muslim yang baik. Tersenyumlah pada ia yang mencacimu, karena ia tak pernah tahu perjuanganmu menggapai hidupmu yang sekarang. Jangan jadi pendendam hanya karena perkataan yang menyakitkan. Biarlah segala perkataan yang sampai pada gendang telingamu kau jadikan sebagai kekuatan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Jangan jadikan perkataan negatif mereka sebagai alasanmu untuk berhenti berjuang ukht.
              Emas itu berasal dari lumpur yang kotor, diinjak, disaring dan ditempa sampai akhirnya menjadi emas yang berharga. Saya selalu ingat kata-kata dari guru saya sewaktu SMA, beliau mengatakan, “Mutiara akan tetap menjadi mutiara, dimanapun ia berada meski di lumpur hitam sekalipun”.
              Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah SWR. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendirir bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangakn kecuali dengan berhimpun karena Allah. Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhoan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”
             Sungguh, kata-kata ini yang selalu membangkitkan semangat serta keimanan saya saat keterpurukan melanda diri. Kata-kata ini yang menjadikan saya senantiasa merasakan ketenangan dan langsung terbesit di dalam ingatan kepada perintah-Nya. Tersadar bahwa diri ini masih sangat jauh dari-Nya, masih lalai menjalankan perintahnya. Inilah perasaan-perasaan yang muncul dari hati. Ia akan mengalir lembut, jika hati tersentuh dan terenyuh. Sahabatku, di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api... obatnya tidak lain adalah “mengenal Allah.”
             Berbicara tentang hati, ini bagian yang sangat sensitif sekali. Hati adalah penunjang kehidupan, ia adalah gambaran dimana baik dan buruknya seseorang adalah tergantung hatinya. Dalam hati ada bisikan lembut yang mendorong diri untuk senantiasa melakukan kebaikan, namun hati pula mudah keruh, mudah terjangkit berbagai penyakit. Sebut saja iri, dengki, hasad, sombong, dendam dan berbagai penyakit hati lainnya. Jangan jadi pendendam, karena dendam akan menyengsarakan hari-harimu, mengotori hatimu dengan hal-hal yang semestinya tak kau fikirkan. Jadilah saja pemaaf, karena orang yang mulia adalah orang yang mudah memaafkan. Perlu kau ingat sahabatku, bahwa orang yang memaafkan bukan berarti ia lemah, namun ia sadar bahwasanya setiap orang pernah melakukan kesalahan. Maka, hati-hatilah dengan hati. Ia mudah sekali berubah dan terbolak-balik. Jangan biarkan dunia menguasai hatimu sahabatku. Biarkan dunia di tanganmu, dan akhirat di hatimu.
             Imam abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat: pertama, ketika membaca al-qur’an; kedua, ketika shalat; dan ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau tidak sedang mempunyainya!”