Senja, tahukah ? Sejak tiga tahun lalu, sejujurnya aku tidak pernah tahu lagi isi hatimu. Karena terkadang perkataan tidak selalu mewakili isi hati. Entah perkataan itu hendak sepanjang atau sependek apa pun. Yang aku tahu, engkau adalah lelaki labil yang belum bisa memilih, masih ingin bermain-main saja dengan duniamu.
Senja, aku sedang dalam proses hijrah. Bukan, bukan berarti aku menghakimimu pendosa, atau bahkan kafir. Kau harus tahu, aku ini bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa. Aku seorang pendosa yang selalu mencoba memperbaiki diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan kau, kau adalah cahaya yang kian hari meredup seakan menjauh dari kehidupanku.
Sebenarnya, bolehkah aku menuliskan ini ? tak ada maksud memintamu kembali pada langit soreku, hanya saja hatiku tak kuasa menahan tulisan ini tuk keluar melalui jemariku. Berkelanalah, sesukamu. Aku tak akan melarang apalagi mencegahmu. Kau tentu tahu mana yang terbaik untuk hidupmu, bukan? Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, mendengar kisahmu samar-samar dari mereka-mereka yang tahu tentangmu. Karena aku sadar, aku tak lagi tahu tentangmu dari lisanmu.
Aku menjauh. Ini adalah fase sebelum aku benar-benar menghilang. Entah itu hanya menghilang dari duniamu, ataukah menghilang dari dunia ini. Yang aku tahu, engkau sudah tidak mau lagi mendengarkan kisahku hari kemarin dan harapanku dihari esok. Biarlah, aku tak apa :’) . aku tak apa kau meninggalkanku, asal jangan kau tinggalkan Allah dan kewajibanmu :)
*biarkan kita saling melambai, jalan kita masih panjang. Semoga silaturahmi akan tetap terjalinkan.
Sahabat jadi cinta, banyak. Tapi cinta jadi sahabat ? semoga saja, semoga tidak ada kebencian. Sukses selalu. Raihlah apa yang kau cita-citakan. Tak perlu menengok ke belakang, cukup seperlunya saja. Karena di depan ada masa depan, jemputlah ia. Siapa pun itu. Sampai jumpa di pelaminan, entah duduk disampingmu atau pun hanya sekedar duduk di kursi undangan. :D
