Hari berdendang, mengurai riang. Langit berseri, mengunjuk gigi. Ah, aku lupa, bukankah langit tak punya gigi? Tanah berdering membunyikan nada sendunya. Apa sendu menguntai dering? Fiuhhh, aku lupa! Tidak, sendu tidak berdering, namun sendu merintih perih. Namun tidak begitu dengan apa yang kau rasakan. Sendu justru tak pernah mempunyai ruang diharimu, senyum selalu hangat kau bagi. Rasanya ingin kumiliki senyum itu sepenuhnya, ingin kuraih ceria itu seutuhnya, iya, ingin! Bahkan sangat ingin. Tapi apa pantas? Seseorang sepertiku yang menggenggammu?
Tatapanmu tajam, menggugah siapa saja yang menatapmu, terutama aku. Tak banyak kata yang kau ucap, namun tindakanmu sudah berlaku sebagai isyarat. Tahukah? Kau selalu baik padaku, tanpa sapa, namun dari sikapmu aku mengerti. Ada cinta dihatimu, kau tak ungkap itu. Bagaimana aku bisa mengerti? Lagi-lagi tatapanlah yang berbicara. Ah, bagaimana akan aku untaikan ini lewat kata, sementara cinta itu tak pernah terucap sebenarnya.
Aku mengenamu tanpa sebuah perencanaan, perkenalan yang datar. Seiring berjalan waktu sajalah aku memahamimu. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah peduli awalnya kepadamu dan sikapmu, aku tak acuh. Entah aku pun tak ingat bagaimana sikapku dahulu terhadapmu. Yang jelas, yang aku tahu sudah sejak lama aku mengenalmu dan kau mengenalku. Sudah kulewati perjalanan panjang bersamamu. Sungguh, aku tak pernah meminta apa pun kepadamu. Namun, kau selalu memberikannya. Tanpa terima kasih aku selalu menerimanya. Salahkah aku?
Bergantinya hari selalu teriring sejarah, cintamu tak pernah berkurang atau bahkan menghilang. Namun aku? Aku terlalu naif untuk menyatakan bahwa aku mencintaimu. Karena bagiku itulah sebuah kegugupan. Aku selalu ragu mengungkapnya. Sampai daun pun mendesakku, angin merayuku, langit menghentakku. STOP! Aku belum berani! Tolong jangan paksa aku untuk mengatakannya, karena kufikir ini tak bisa kuungkap dengan kata. Ini masalah beningnya rasa, sudahlah... Jangan biarkan ia keruh akhirnya.
Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau sayangi, aku tahu. Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau istimewakan, iya aku tahu. Ada ia, wanita yang lebih kau cintai dan istimewakan. Namun sejujurnya, tak pernah terbesit istilah cemburu di hati ini. Aku selalu mencintaimu, bahkan kau pun begitu. Apa aku marah kepada wanita itu? TIDAK! Aku justru begitu menyayanginya, aku mencintainya sebagaimana yang dilakukanmu. Mungkin ini terdengar bodoh, namun lebih bodoh lagi jika aku tak mencintai wanita itu. Kau yang selalu mengajariku untuk mencintai sesama, yang menarikku dari keterpurukan hariku. Mentari memang hangat, namun hangat itu lebih berharga saat aku disampingmu. Kau memang tak pernah mengatakan bahwa kau selalu mendo’akanku. Namun do’amu selalu berhembus lembut dihidupku, dan aku rasakan itu.
Senja beranjak dari peraduannya, menggeliat keluar dari tempatnya bersemayam, apa ia bosan disana? Tidak! Memang seharusnya ia ada di langit jingga di setiap sore merona. Kau bangkit dari letihmu, tanpa keluh kau kayuh perlahan hari. Berjalan gagah dengan sarung kotak-kotak sebagai bawahan menghadap Rabb dengan panggilan lembut adzan yang sayup-sayup terdengar samar dari ujung kampung. Tak lama suara lembut nan merdu terdengar di mushola kumuh yang kau buru. Iya, perjalananmu kau tujukan ke mushola itu. Aku terpejam, menghayati tiap-tiap bait lantunan cinta yang kau suarakan. Suaramu meresap sebagai panggilan hati, menggali naluri bathin yang berkecamuk misteri, melerai kepenatan di setiap hari yang telah dijalani. Iya, diujung hari selalu menuai senyum di bibir ini. Tidak hanya senja yang kau sapa dengan merdu lantunanmu. Gelap dan dinginnya subuh pun kau sapa dengan gembira. Layakkah kau kuabaikan?
Perjuanganmu untukku tak pernah sampai pada titik pemberhentian. Aku pun bingung sebenarnya apa yang kau tuju. Aku hanya takut menuai kecewa atas cinta yang kau beri. Terlebih cinta kepada wanita itu yang selalu ku tata dan ku resapi. Tanyaku, apa aku bisa bertahan tanpa cintamu? Apa wanita itu akan selamanya mencintaiku jua? Atau hanya aku yang terlalu takut cinta itu pudar? Bukan! Yang aku takut adalah aku tersesat tanpa arah, aku bimbang tanpa tujuan dan akhirnya ia kecewa. Fiuuhh, biarlah aku beristirahat sejenak dari lelah ini. Iya, aku tahu dan aku mengerti kini. Bahwa berjuang itu lelah, begitulah kau menasihatiku dengan perjuangannya terhadapku. Biarlah, biar saja kau menjatuhkan cinta secinta-cintanya pada wanita itu. Aku tak bersedih, aku bahagia bahkan saaaaaangat bahagia. Terlepas dari belenggu perjuanganmu yang sebenarnya aku bingung tuk membalasnya. Sapaku mungkin tak selalu sampai, namun do’aku untuk kebaikanmu dan wanita itu selalu teruntai. Sudahlah, sudah biarkan akau meresapi diri ini, karena bergantung pada cinta dan perjuanganmu saja hanya kan membuatku tak pernah berkembang menjadi aku. Biarlah aku bahagiakanmu dengan caraku. Kau yang selalu mencintaiku, kau yang membuatku paham akan arti cinta itu sebenarnya, kau dengan suara merdu adzanmu, kau yang berkeringat namun selalu taat, kau hebat, kau x-man sejati. Kau yang tak pernah kusadari perjuangannya, lelaki super yang melebihi super dede. Ah, andai saja aku mampu mengungkap cinta ini kepadamu yang diam-diam dari jauh selalu menghadiahkan cinta dan sapanya untukku. Teruslah bahagia dan cintai wanita itu, wanita yang melahirkanku dan mendidikku di madrasah pertama. Kau, iya kau AYAH, Aku mencintaimu~


