Minggu, 14 Januari 2018

                                                            Sumber Gambar : Google

Menemukan Pelangi~
Riska Nurlita

Tetiba saja, inderaku menangkap ketajaman warna
kala menyaksikan senyum-senyum merona
wajah teduh tanpa dahaga
raut indah penuh pesona


Kau misterius, serius nan romantis
diam-diam hatimu gerimis
tapi badai selalu luluh kau tepis
untuk kami, kau lah pembius termanis

Kau si ceria, tenang, bahagia
lelahmu kau curahkan untuk cengkrama
bersama barisan-barisan kertas penuh aksara
untuk pendidikan, abdimu luar biasa

Kau si intel terhebat
menyapa dengan senyum hangat
menyeru kepada taat
Ringan memberi tanpa syarat
Untuk lemah, kau lah penguat

Kau si pemilik perhatian tanpa batas
keringatmu luluh terkuras
semangatmu tetap yang paling atas
untuk cinta, kau sajikan dengan ikhlas

Kau si penyumbang tawa, pengukir ceria
aksara demi aksara dengan lantang kau eja
celotehan-celotehan adalah bumbu-bumbu masa
untuk bahagia, kau lah pembawanya

Kau si tegas nan pendiam
Mimpi-mimpi dengan sunyi kau anyam
Kau cantik hingga ke dalam
Untuk tenang, kaulah yang menyulam

Kau si tenang nan anggun
keyakinan selalu kau bangun
Lembut selayak helaian daun
Untuk semangat, kau lah yang terimbun

Kau si cuek nan dingin
Mengenalmu ternyata sehangat lilin
Melupakanmu menjadi hal yang tak mungkin
Untuk tawa, kau lah yang memimpin

Kau si rapuh nan tegar
Keluh tak kuasa kau edar
Dan Allah sebaik-baik tempat bersandar
Untuk perjalanan, darimu ku belajar sabar

Kau si ramah dengan sajian senyuman
Walau berkali-kali kau tak paham bahasan
kau ada dengan sebaik-baik tauladan
Untuk berbagi, setelah Allah kau lah tempat ternyaman

Kau seulas senyum manis nan tenang
Kau hadir sebagai penerang
Kau rangkul muslimah dengan kasih sayang
Untuk hati, kaulah pengukir riang


Warna-warni pelangi di langit jingga merona
Menyajikan indahnya pesona
Soreku tak lagi usang, kini penuh rekahan warna
"Menemukan Pelangi", menghias langit bersama~

                                                          Tangerang, 14 Januari 2018

Puisi teruntuk shalihah, terimakasih telah mengukir warna :)
Bisakah menebak kamu yang mana?




Sabtu, 13 Januari 2018


Aku, Kau dan LTIQ


      Berawal dari perkenalan dalam sebuah naungan kehidupan, miniatur masyarakat; katanya. Di ruang persegi dengan pintu-pintu berjejer selaksa barisan pagar yang melindungi tanaman. Kehidupan di mulai menjadi gulungan kisah, penuh aroma getir namun sejarah begitu indah terukir. Perkenalkan, seorang wanita yang awalnya hanya kukenal lewat bait-bait cerita orang, kemudian mulai kukenal dari sebuah kerjasama dalam kewajiban, waktu itu kami disatukan  di bagian bahasa ketika kelas dua extension, hari itu menyandingkan dirinya dengan diriku, dalam amanah yang sama, oh iya hampir saja aku lupa, wanita itu Intan namanya.
         Di pondok pesantren Daar el-Qolam 3, kami beratapkan harapan dan Ridha Allah, berkah kiyai dan ilmu yang senantiasa diamalkan (lebih tepatnya dipaksa untuk diamalkan), karena kebaikan memang harus selalu dipaksakan agar kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Mungkin kau berfikir, hidup di pondok pesantren berarti belajar kitab, punya hafalan al-Qur’an, berakhlak baik. Jika itu memang yang ada difikiranmu tentang para santri, maka izinkan aku untuk meluruskan. Kami para santri, bukanlah nabi, baik dan buruknya pun tergantung diri sendiri. Kami diajarkan untuk taat, namun pengamalan sebenarnya adalah bukan ketika di pondok, namun ketika terjun langsung ke masyarakat.
        Aku menyadari bahwa hidup adalah sebuah pilihan, akhirnya ketika kelas dua aku melabuhkan pilihan pada satu organisasi; JHQ (Jam’iyyatul Hufadzil Qur’an). Di sinilah aku bersama teman-temanku menyatukan mimpi kami menjadi ahlul Qur’an, memakaikan mahkota untuk kedua orang tua tercinta. JHQ adalah muara sebuah kerinduan bagi iman, apalagi nasihat di rabu malam, nasihat indah dari seorang ustadz yang dengan lembut mengalir dari lisan yang senantiasa mengucap cinta pada Rabbnya, Ustadz Adi Surya Langga; namanya, atau lebih dikenal dengan nama Ustadz Atho’. Kau perlu tahu, di sinilah persahabatan aku dengan Intan mulai terjalin erat.
           Qadarullah, ketika duduk di kelas tiga, lagi-lagi Allah menyandingkan aku dengan Intan, di satu meja yang sama, kami berbagi suka duka, memuraja’ah hafalan, menggoreskan impian pada tinta-tinta yang berbeda, dengan masing-masing kertas yang kami dekap yang isinya adalah rentetan keinginan-keinginan yang konyol pada faktanya, namun selalu menjadi sebuah alasan untuk tetap tergoreskan.
           “Ka, banguun.. ishh banguunnn”. Intan mencubiti tanganku, tak lupa kakinya dengan sigap menginjak kakiku. “Ka, ada ustadz”. Kali ini cubitan Intan lebih keras. Aku terperanjat, kuangkat kepalaku yang sedari 10 menit lalu menempel di meja. Kupamerkan deretan gigiku ke hadapan Intan, memberi isyarat bahwa aku sudah bangun dan dia tidak perlu mencubitku lagi. “Huhh” gerutu Intan meledekku. Ah, sabtu pagi memang selalu menjadi hari yang melelapkan pagiku di kelas, kepalaku selalu terasa berat, apalagi kelopak mataku. Maklum saja, jam 6 pagi kami sudah harus berbaris rapi di lapangan untuk menjalankan upacara bendera. Meski kuakui, tidur di kelas telah menjadi rutinitasku, hampir setiap hari, bukan hanya di hari sabtu, tolong ini jangan dicontoh ya, hehe.
         Kelas 3 selalu menjadi saat-saat bermunculannya pertanyaan-pertanyaan tentang kelanjutan masa depan. “Mau lanjut kemana?” hampir setiap orang menanyakan itu. Aku dan Intan punya keinginan yang berbeda, Intan ingin melanjutkan pendidikannya ke STAN, sementara aku ingin melanjutkan pendidikan ke UIN Syarif Hidayatullah dengan jurusan tafsir-hadits, bahkan mimpi terbesarku adalah bisa melanjutkan ke al-Azhar, Cairo. Buku kami selalu penuh dengan motivasi-motivasi, impian tentang pendidikan, bahkan tentang sebuah pernikahan dengan yang masih Allah rahasiakan, yang kami sebut “antum”. Ah, aku selalu senyum-senyum jika mengingatnya.
        Mimpi-mimpi kami, pada akhirnya tersisihkan oleh saatu waktu yang menggugah. Hari itu, kami anggota JHQ dikumpulkan, kami dikenalkan dengan satu pondok pesantren di Subang, LTIQ As-Syifa; namanya. Kami dikenalkan dengan kegiatan-kegiatan di sana. Fokus pondok pesantren itu adalah menghafal al-Qur’an dan memperdalam ilmunya. Hati kami berbinar, seperti menemui air minum dalam kondisi dahaga, seperti menemui danau di tengah sahara. Aku dan Intan saling berpandangan, mengukir senyum dengan ukiran impian baru; “hafidzah”.
           Sejak perkenalan dengan as-Syifa, ada banyak hal yang perlu kami persiapkan matang-matang. Aku, Intan, Ika, Shofi, Maudy, Teteh Gina, Syifa adalah bagian dari perjuangan ini. Yang pertama kali harus kami perjuangkan adalah izin dari orang tua. Satu persatu dari kami mulai menyusun strategi untuk mengutarakan keinginan lanjut ke as-Syifa. Dan hari itu tibalah giliranku, dengan gemetar kuutarakan maksudku kepada ibuku bahwa aku ingin melanjutkan ke as-Syifa untuk menghafal al-Qur’an. Kau tahu apa jawaban ibuku? “Kalau kamu menghafal al-Qur’an, nanti kamu mau kerja apa?” deg... kalimat itu menghujamku, menusuk perih bagian mataku, sekuat tenaga aku menahan alirannya untuk tak keluar. Iya, hari itu aku gagal meyakinkan ibuku.
        Tak berbeda jauh denganku, Intan pun menceritakan hal yang sama, begitu pun teman-temanku. Jawaban mereka hampir sama, takut anaknya tidak mendapat pekerjaan. Namun kecewa tak kami biarkan menghalangi impian, setiap hari ada do’a-do’a yang melangit, meminta Allah untuk membukakan hati orang tua kami. Sejak saat itu, as-Syifa adalah bagian dari do’a.
           Sebelum wisuda, orang tua kami diundang untuk datang ke pondok menghadiri rapat. Ini menjadi kesempatan emas bagi kami untuk mengutarakan (lagi) keinginan kami untuk lanjut ke as-Syifa, berbekal selembar brosur, kami beranjak menuju saung-saung tempat orang tua kami berteduh seusai rapat. Dengan harapan tinggi, aku mendekati ayahku, kusodorkan brosur dengan hati-hati.
         “Pak, ini brosur as-Syifa, pondok hafalan. Neng pengen lanjut kesini pak, lanjutin hafalan. Pengen ngasih mahkota buat bapak sama emak nanti di surga” ujarku sambil berkaca-kaca.
        “Di mana ini, Neng?” tanya bapak.
        “Di Subang, pak.”
        “Jauh euy, udah atuh gak usah jauh-jauh. Kuliah aja di UIN” kata bapak.
        “Tapi pak, neng pengen lanjutin hafalan. Pengen jadi hafidzah, di sini ada beasiswanya kok, tiga tahun itu terhitung pengabdian, jadi digratisin, pak.” Nadaku sedikit memohon, karena aku tahu alasan terbesar orang tuaku tidak mengizinkan adalah biaya. Bapakku menarik nafas panjang, kutahu matanya berkaca-kaca, sama seperti mataku yang mulai memerih, aku tertunduk, menyiapkan hati mendengar apa pun yang akan bapak katakan.
        “Bapak mah pengennya neng itu lanjutin pendidikan, tapi bisa pulang seminggu atau dua minggu sekali. Kalau nanti neng di Subang, jauh dari bapak. Bapak juga gak bisa nengok setiap minggu. Bapak gak mau neng. Neng udah tiga tahun di pondok, masa harus di pondok lagi, jauh dari bapak.” Nyesss.. perkataan itu langsung menusuk hatiku, tak dapat lagi aku berkata. “Do’ain bapak ya, neng. Biar bisa rajin tahajjud. Biar kita sama-sama baik, selalu dalam lindungan Allah” bapak melanjutkan. Ingin kupeluk bapakku saat itu juga, tapi lagi-lagi aku tak biasa dengan hal itu. Dan itulah jawaban yang kuperoleh.
         Bapak pamit pulang, aku mencium tangannya dengan khidmat. Meski jawaban tentang as-Syifa hari itu adalah “tidak” untuk diriku, namun sejak saat itulah aku bersyukur masih memiliki orang tua yang begitu sayang padaku. Dari gerbang asrama kubergegas menuju depan kamar, di sana sudah ada Maudy dan Shofi. Maudy merengkuh tanganku, mempersilakan aku duduk di sampingnya. “Tidak apa-apa, ini sudah jadi jalan terbaik Allah”, ucapnya mengelus punggungku, ia mengerti gelisahku.
        “Riskaaa, Maudy, Shofi..” Ika berlari-lari sambil meneriakki nama kami. Wajahnya terlihat bahagia.       “Alhamdulillaah, Ika diizinin buat lanjut ke as-Syifa, tapi Ika ambil yang satu tahun aja.” 
         “Alhamdulillaah” ucap kami serentak. Aku turut bahagia mendengar kabar Ika, Ika adalah orang ketiga yang diizinkan orang tuanya untuk lanjut di as-Syifa setelah Maudy dan Shofi. Tak lama kemudian, Intan datang membawa kabar yang sama dengan Ika, Rabb.. betapa senangnya kami, meski dalam hati kecilku ada perih, namun melihat teman-temanku bahagia adalah bahagiaku jua. Kami saling merangkul dan menguatkan. Aku tak sendiri, Syifa dan Teteh Gina pun tidak mendapat izin dari orang tuanya. Akhirnya, hanya empat orang di antara kami yang Allah pilih di as-Syifa. Maudy dan Shofi mengambil program beasiswa (3 tahun), sementara Ika dan Intan mengambil program reguler (1 tahun).
           Malam harinya, kami segera menemui Ustadz Atho’, kami menceritakan kegelisahan kami pada sang ustadz, dengan berlinang kami mendengarkan baik-baik nasihat sang ustadz.
         “Kalau pun nanti kalian kuliah, kalau bisa, tetep cari pondokan sekitar kampus, biar tetep terjaga. Gak apa-apa, kalau emang orang tua gak ngizinin, nurut aja sama orang tua, ini pasti jalan terbaik Allah.” Pesan sang ustadz meresap dalam, kami berbincang hingga tengah malam di halaman rumah Ustadzah Nurhayati. Dan sejak hari itu, kami menata lagi mimpi-mimpi ke depan, mungkin kita memang tidak lagi disatukan dalam atap yang sama, tapi mimpi kita bersama al-Qur’an tetap sama, menjadi hafidzah dengan cara kami masing-masing.
          Para pejuang LTIQ (Lembaga Tahfidz dan Ilmu al-Qur’an) as-Syifa pun terpisah, Ika, Intan, Maudy Shofi di as-Syifa, sementara aku di UIN Syarif Hidayatullah (Pendidikan Kimia), Teteh Gina di UPI Bandung (Pendidikan Bahasa Arab), dan Syifa di Universitas Pertamina (Kimia).
                                                                             ***
          Setahun berlalu, kami telah melewati jalan kami masing-masing tanpa pernah bersua kembali, hingga pada satu hari Ika datang ke UIN untuk ikut test. Iya, karena memang ia hanya mengambil program di as-Syifa satu tahun. Pertemuan kami tidak pernah terduga, malam itu selepas shalat tarawih di masjid fathullah, tak sengaja kutatap satu wajah disampingku, dan qadarullah, Allah mempertemukan aku dengan Ika di rumah-Nya. Kupeluk ia dengan haru, sejujurnya jika mendengar nama mereka saja aku langsung memikirkan as-Syifa, membayangkan andai aku dulu di sana, ah tapi sudahlah. Ika bercerita banyak padaku tentang as-Syifa, tidak lupa pula kabar Intan, Maudy dan Shofi di sana. Semakin salut aku dibuatnya, hingga suatu waktu...
      “Ka, Intan kan udah khatam 30 juz” Ika memberi tahuku. Kau tahu? Antara bahagia dan haru kumendengarnya. Andai Intan saat itu ada di sampingku, akan kupeluk ia. Getir hatiku, kembali lagi dan lagi membayangkan andai aku dulu di as-Syifa. Mereka yang begitu dekat dengan al-Qur’an begitu Allah mudahkan untuk menghafal kalam-Nya. Sementara aku? Masih saja lalai dengan rutinitas dalam peluh yang kadang membuatku jauh dengan al-Qur’an, astaghfirullaah. Aku tak akan mengalah pada keadaan, lagi-lagi ini adalah cara Allah menamparku yang selalu menjadikan kesibukkan sebagai kambing hitam. Sejak kabar itu bertandang pada telingaku, aku tak sabar untuk bersua dengan Intan, mendengar suaranya dan senyum hangatnya.
        Intan yang kukenal memang sosok yang ambisius, optimis, percaya diri dan periang. Ia akan berjuang untuk apa yang ia cita-citakan. Teringat betapa ia begitu terharu ketika mendapat izin untuk lanjut ke as-Syifa, karena yang aku tahu, orang tuanya adalah yang paling sulit untuk meng-iyakan, tapi ia pula yang paling sulit menyerah dalam hal membujuk. “Intan pengen jadi hafidzah, ka. Hayuu ka kita sama-sama memakaikan mahkota buat orang tua kita”. Kalimat itu yang membekas di telingaku sejak satu tahun lalu.
        Bagiku, setahun adalah waktu yang begitu singkat untuk menghafalkan al-Qur’an. Ternyata kini bukan lagi cerita orang, sahabat terdekatku telah membuktikannya, tentu dengan kesungguhannya. Jejak-jejaknya belum sempat ia utarakan langsung pada diriku, namun di belahan bumi Allah yang lain, ia dengan senang hati memperdengarkan perjalanannya bersama al-Qur’an. Tan, semoga Allah meridhoimu. Aamiin.
       Malam menyemai tenang pada suasana, jemari mengetik sebuah peristiwa, mengenang kebersamaan bersama sahabat tercinta. Teruntuk para perindu Qur’an, di tulisan ini izinkan aku berbagi tentang kisah Intan, barangkali ada hati yang terbuka, mimpi yang kembali membaja.
          
        “Jejaknya bersama al-Qur’an berawal dari JHQ dan perkataan Ustadz Atho, diiringi dengan tekadnya yang begitu kuat untuk berubah, motivasi terbesarnya adalah memberikan jubah terindah untuk keluarganya, menginginkan keluarganya menjadi keluarga yang dirindukan surga. Karena ketika kita berazzam untuk menghafal al-Qur’an, maka di sana pintu taman indah terbuka dan hakikatnya menghafal al-Qur’an adalah untuk menggapai ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
        Ketika menghafal, tentulah banyak rintangan yang dihadapinya, yang pertama adalah tentang keresahan hati. Karena menghafal adalah luangnya hati, bukan luangnya waktu. Cara mengatasinya: “Bereskan masalahnya, luangkan hatinya, luruskan niat kembali karena Allah.” Rintangan yang kedua adalah ketika menemui ayat yang panjang, itu menandakan bahwa Allah sayang sama kita, kita gak boleh bilang bahwa ayat tersebut susah, itu tandanya Allah ingin kita berlama-lama dengan al-Qur’an. Yakinlah bahwa Allah melihat proses, ketika proses kita baik, maka hasilnya pun in syaa Allah akan baik.
       Ketika Intan memilih untuk fokus menghafal al-Qur’an, awalnya banyak sekali yang tidak setuju, kau tahu apa yang selalu Intan mohon pada Allah? Iya, sebuah do’a, “Yaa muqollibal Quluub.... (Wahai yang Maha membolak-balikkan hati)”, begitu dan selalu begitu, selalu meminta pada Allah agar hati orang tuanya Allah bukakan. Ada hal yang baru aku tahu dan baru Intan ceritakan, yaitu ketika di pondok dan ketika ia menyerahkan brosur as-Syifa ke mamahnya, mamahnya berkata “Oh Intan mau ngafal al-Qur’an? Kebetulan di kampung kita kan belum ada yang menghafal al-Qur’an” inilah perkataan yang belum pernah Intan bayangkan sebelumnya, seperti mimpi; katanya. Ditambah lagi satu kisah ketika sedang berkumpul dengan keluarganya, “ Oh Intan mau kuliah?” tanya pakdenya.
      “Mau ngafal dulu” jawab Intan.
    “Itu kan butuh waktu yang lama, terus kapan kuliahnya, nanti tambah tua.” Seru pakdenya lagi. Intan hanya diam, tersenyum dan tak menjawab apa-apa. Intan tetap teguh dengan tekadnya, ya Allah lancarkan, lirihnya.
      Banyak hal yang berubah dari sikap keluarganya setelah Intan memilih untuk menghafal al-Qur’an. Bapaknya yang dulu selalu mengakhirkan shalat, kini selalu mengusahakan shalat tepat waktu, mamahnya yang kalau keluar rumah untuk jarak yang dekat-dekat masih membuka kerudung, kini telah istiqomah berkerudung meski hanya sejengkal keluar rumah. Hal yang selalu Intan lakukan ketika orang tuanya menjenguk di as-Syifa adalah menyelipkan bunga dan surat di sana, suratnya berisi ajakan untuk menjadi lebih baik lagi, begitu dan selalu begitu.
      Dalam menghafal tentu ada saatnya futur (semangat menurun), wanita berumur sembilan belas tahun ini selalu berusaha meluruskan niat untuk menghafal al-Qur’an karena Allah, karena Allah menanti tasmi’ 30 juz kita di akhirat nanti. Dengan kita menghafal al-Qur’an, kita bisa menikmati hafalan-hafalan al-Qur’an kita, kalamullah di sepertiga malam terakhir kita. Dengan merasakan seperti dipeluk oleh Allah, meneteskan air mata, menghayati dan mengkhusyukkan serta memuhasabahkan diri kita. Karena Allah, Allah dan Allah. Titik terberat dalam menghafal al-Qur’an yang dirasakan Intan adalah ketika lelah dan lesu. Tapi lagi dan lagi diniatkan bi lillah. “Apa yang kita korbankan untuk al-Qur’an in syaa Allah akan menjadi tabungan di akhirat nanti. Yang perlu kita ingat adalah bahwa apa pun yang terjadi di kehidupan kita adalah cara Allah agar kita mendekatkan diri pada-Nya.” Katanya.
      Mungkin teman-teman bertanya-tanya, “kenapa sih kita harus menghafal?” ini jawabannya; al-Qur’an akan menjadi syafa’at di akhirat nanti, al-Qur’an dan iman adalah cahayanya Allah. Ketika di akhir zaman, manusia akan dibangkitkan menuju jembatan shirathal mustaqim, lalu apa yang akan menjadi penerang? Ada dua, yaitu orang yang menghafal al-Qur’an dan orang yang selalu membaca al-Qur’an. Kalau kita selalu membawa al-Qur’an kemana pun kita pergi, in syaa Allah al-Qur’an akan membawa pergi kita kemana pun.
Tahukah? Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat dan berkata : “Ya Allah, berikanlah perhiasan (untuk penghafal al-Qur’an)” al-Qur’an berkata lagi, “Ya Allah tambahkanlah untuknya” (Allah menambahkan pakaian kemuliaan). Al-Qur’an berkata lagi, “Ya Allah ridhoi dia” lalu dikatakan pada hafidz dan hafidzah, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap yang kamu baca.”
Ketenangan hatilah yang senantiasa melekat dalam diri Intan, hidupnya banyak berubah, karena senantiasa terjaga, baik dari lisannya, perilaku dan pandangan. “Indah rasanya ketika kita selalu berada dalam mihrab cinta Allah,” katanya.

Sebuah pesan teruntuk kita terutama untuk diri :

“Terus letakkan al-Qur’an di hati kita, dalam menghafal banyak istighfar, jauhi maksiat, jadikan muroja’ah seperti nafas hidup kita, minta diistiqomahkan sampai husnul khotimah. Hiasi nafas kita dengan ayat-ayat al-Qur’an, jangan menyerah, luruskan niat. Karena Allah, kita bisa. Bukan karena dunia, tapi karena akhirat. Yang penting adalah mengamalkannya. Siapa pun orangnya, menjadi ahlul Qur’an itu tidak cukup dengan menjadi hafidzah al-Qur’an, tapi menjadi ahlul Qur’an itu bagaimana kita ridha bersama al-Qur’an dan senantiasa mengamalkan apa yang ada di dalamnya.”

      Di antara rerimbun nasihat, aku hanyalah hamba biasa, begitu pun Intan, juga teman-temanku yang hingga saat ini abadi dalam ingatan dengan sebutan “pejuang LTIQ”. Ini hanyalah sebagian kisah kami memperjuangkan mimpi, dan salah satu dari kami telah mencapai finish lebih dulu. Kau tahu? Kumenulis ini di tengah rindu biru yang selalu mengharu, merindukan kebersamaan bersama sahabat-sahabat yang mendekatkan diri dengan Allah, dengan al-Qur’an. Kami terpisah, namun mimpi kami masih utuh menyatu.
    “Karena yang dirindukan dari seorang sahabat itu bukan canda dan tawanya, tapi nasihat dan do’anya, kalau kita tidak bisa reunian di dunia, semoga kita bisa reunian di surga” Aamiin. Semoga bermanfaat. :)



Dipost dengan agar semakin banyak yang membaca dan mudah-mudahan menjadi inspirasi untuk semakin dekat dengan al-Qur'an ~~~
Allahu Yubarik fiikum~

13 Januari 2018 23 : 17

Senin, 04 September 2017

Ketika Jilbab Menjuntai Indah
 
Akhwat : “Masya Allah. Kamu cantik banget pake kerudung gede. Pengen deh kaya kamu.”
Ikhwan : “Masya Allah ukht, adem banget anti pake pakaian syar’i”
Ini komentar orang-orang sekitar saat melihat akhwat yang memakai pakaian syar’i, dimana jilbab dan kerudung yang menjuntai indah membuat seorang akhwat menjadi lebih anggun. Sekilas tidak ada yang salah dengan dua komentar di atas, baik komentar dari akhwat yang lain maupun dari ikhwan. Karena faktanya, memang akhwat yang berpakaian syar’i terlihat jauh lebih anggun. Eittsss. Tapi jangan salah, komentar di atas bisa saja jadi masalah buat orang yang bersangkutan (si akhwat yang jadi objek). Lho kok, gitu? coba cek, dua kalimat itu mengandung pujian, yang secara hakikatnya jika itu ditujukan pada pada seorang akhwat akan sangat mengganggu keimanannya. Pujian sebenarnya adalah sebuah ujian, dalam konteks ini akhwat yang dipuji akan senantiasa diuji keimanan serta niatnya dalam berpakaian syar’i. Ia harus senantiasa mempertahankan niatnya lillah. Tahukah sahabat? Ini saaangat tidak mudah. Hati seseorang yang telah dipuji biasanya akan mengharapkan pujian itu terulang. Sungguh hal ini tidak bisa dipungkiri. Namun tentunya bagi seorang muslimah yang senantiasa menjaga iffahnya, ia akan selalu berusaha untuk menghindarkan perasaan senang dipuji dihatinya, dan inilah tantangan terberat baginya.
Ada akhwat yang dipuji ia hanya membalasnya dengan senyuman saja, ada pula yang membalasnya dengan perkataan halus “ ‘afwan, saya tidak sebaik yang antum kira”, bahkan ada pula yang bersedih hati ketika mendapat pujian itu. Wallahu a’lam. Lalu bagaimanakah sebenarnya yang harus seorang akhwat lakukan? Tetaplah perbaiki niatmu ukht, jangan sampai pujian menjerumuskanmu pada kenistaan, jangan sampai ia yang mengikis pahala amalanmu yang awalnya kau niatkan sungguh-ungguh karena Allah. Berhentilah berhias hanya karena ingin terlihat cantik di mata orang. Tetapi lebih jauh dari itu, jilbab dan kerudungmu adalah kemuliaanmu yang akan engkau pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Ukhty..
Jilbabmu yang akan menjadi saksi ketaatanmu pada Rabbmu
Kerudungmu yang akan menjuntai pahala dalam balutan cahaya yang memancar dalam dirimu
Keelokanmu adalah buah dari ketaatanmu
Keanggunanmu adalah hadiah dari keberanianmu menghardik rasa malu
Mereka yang mengagumimu hanyalah sebagai pembangkit motivasimu
Sesungguhnya hanya Allah yang tahu isi hatimu
Ukhty...
Bagian dari hatimu bukankah telah kau isi dengan cinta-Nya?
Maka jangan rusak ia dengan pujian yang sebenarnya adalah sebuah ujian
Ingatlah, ini adalah kewajiban yang hadiahnya bukan pujian
Melainkan suatu keridhoan Allah yang akan menjadi sebuah bingkisan
Allah tahu ukht, Allah tahu..
Allah tahu kesakitanmu menuju jalan-Nya
Allah tahu letihnya perjalananmu menggapai hidayah-Nya
Allah tahu, maka jangan rusak itu dengan terlena akan pujian abstrak yang fatamorgana
(RN)
Sahabatku, mari perbaiki niat, terus perbaiki. Biarlah jilbabmu menjuntai indah seindah keimananmu. Anggap saja pujian itu sebagai cambukan bagimu untuk semakin menambah amalmu.
           “Sudah berjilbab, tapi kok kelakuannya begitu?”, nah lho, tadi dipuji sekarang dicaci. Namanya juga manusia, mau kita melakukan hal-hal baik sekali pun, pasti ada saja yang berkomentar negatif. Maka dari itu sebagai manusia yang strong, harus punya telinga tebal, hati yang kuat dan emosi yang terkontrol. Yaaa kalau ada yang mencaci dengan berkomentar negatif kaya begitu tinggal disenyumin aja. Saudaraku, ingat akhlak dengan jilbab adalah dua hal yang saaaaaangat jauh berbeda. Ia yang berjilbab tidak menjamin akhlaknya baik. Sederhananya begini, jilbab adalah kewajiban yang mutlak datangnya dari Allah, sementara akhlak adalah kepribadian yang dimiliki masing-masing orang. ia yang berjilbab namun akhlaknya masih kurang, jangan dicaci, nasihati dan biarlah dia memperbaiki diri, karena hakikatnya jilbab adalah sebuah nasihat agar senantiasa memperbaiki diri. Telah jelas dalam al-qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “......dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.....” (QS An-Nur:31)
              Ini adalah bukti bahwa jilbab yang menutup dada adalah murni perintah Allah, sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, sementara akhlak adalah sesuatu yang kapan saja bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu. Bukankah jika telah kita jalankan kewajiban kita, maka akhlak akan mengikuti dengan sendirinya? Jilbab menjadi reminder agar senantiasa melakukan hal-hal baik. Ketika hendak membicarakan orang lain, hati mengingat “malu sama jilbab”, begitu seterusnya. Tenang ukht, ini bukan soal munafik atau apa, namun ini adalah bagian dari sebuah usaha mempertahankan keimanan serta keyakinan dalam diri.
               Mulai sekarang, yuk jaga lisan, ingat bahwa bukan kamu saja yang punya lisan. Orang-orang sekitarmu juga punya lisan, maka mereka bisa saja membicarakanmu kapan saja. Karena setiap suaramu adalah gema yang bunyinya akan kembali lagi pada dirimu. Berhati-hati terhadap lisan, berhati-hati terhadap sikap, alangkah indah jika kita menjadi agen muslim yang baik. Tersenyumlah pada ia yang mencacimu, karena ia tak pernah tahu perjuanganmu menggapai hidupmu yang sekarang. Jangan jadi pendendam hanya karena perkataan yang menyakitkan. Biarlah segala perkataan yang sampai pada gendang telingamu kau jadikan sebagai kekuatan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Jangan jadikan perkataan negatif mereka sebagai alasanmu untuk berhenti berjuang ukht.
              Emas itu berasal dari lumpur yang kotor, diinjak, disaring dan ditempa sampai akhirnya menjadi emas yang berharga. Saya selalu ingat kata-kata dari guru saya sewaktu SMA, beliau mengatakan, “Mutiara akan tetap menjadi mutiara, dimanapun ia berada meski di lumpur hitam sekalipun”.
              Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah SWR. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendirir bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangakn kecuali dengan berhimpun karena Allah. Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhoan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”
             Sungguh, kata-kata ini yang selalu membangkitkan semangat serta keimanan saya saat keterpurukan melanda diri. Kata-kata ini yang menjadikan saya senantiasa merasakan ketenangan dan langsung terbesit di dalam ingatan kepada perintah-Nya. Tersadar bahwa diri ini masih sangat jauh dari-Nya, masih lalai menjalankan perintahnya. Inilah perasaan-perasaan yang muncul dari hati. Ia akan mengalir lembut, jika hati tersentuh dan terenyuh. Sahabatku, di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api... obatnya tidak lain adalah “mengenal Allah.”
             Berbicara tentang hati, ini bagian yang sangat sensitif sekali. Hati adalah penunjang kehidupan, ia adalah gambaran dimana baik dan buruknya seseorang adalah tergantung hatinya. Dalam hati ada bisikan lembut yang mendorong diri untuk senantiasa melakukan kebaikan, namun hati pula mudah keruh, mudah terjangkit berbagai penyakit. Sebut saja iri, dengki, hasad, sombong, dendam dan berbagai penyakit hati lainnya. Jangan jadi pendendam, karena dendam akan menyengsarakan hari-harimu, mengotori hatimu dengan hal-hal yang semestinya tak kau fikirkan. Jadilah saja pemaaf, karena orang yang mulia adalah orang yang mudah memaafkan. Perlu kau ingat sahabatku, bahwa orang yang memaafkan bukan berarti ia lemah, namun ia sadar bahwasanya setiap orang pernah melakukan kesalahan. Maka, hati-hatilah dengan hati. Ia mudah sekali berubah dan terbolak-balik. Jangan biarkan dunia menguasai hatimu sahabatku. Biarkan dunia di tanganmu, dan akhirat di hatimu.
             Imam abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat: pertama, ketika membaca al-qur’an; kedua, ketika shalat; dan ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau tidak sedang mempunyainya!”

Kamis, 17 Agustus 2017

Hijrahku, hijrahmu :)

Hijrah itu lelah
Hijrah itu susah
Hijrah itu gerah
Hijrah itu pasrah
Tapi hijrah tak akan ada jika menyerah, hijrah tak akan bertahan lama jika tak istiqomah
Hijrah itu proses, sampai kapan? Sampai keringat terakhir berhenti menetes
Hijrah itu indah, jika lillah
Terseok, terombang-ambing, terhantam ombak, bahkan tenggelam
Sibuklah sesibuk-sibuknya, namun jangan sampai lupa selupa-lupanya
(RN)

Hijrah itu apa, sih?

Hijrah berasal dari bahasa arab “hijrotun” yang artinya:
    Pindah, menjauhi atau menghindar
    Kerasnya sesuatu; berarti tengah hari di waktu panas sangat menyengat (keras)
         
Secara bahasa hijrah itu adalah menjauhi sesuatu dengan sangat keras karena adanya ketidak setujuan dan kebencian.
Nah, definisi hijrah menurut bahasa di atas berarti berpindah. Jika berpindah pasti ada yang ditinggalkan, bukan? Yang ditinggalkan ini jangan sampai didekati lagi. Karena sudah pasti yang kita tinggalkan pada saat hijrah tersebut adalah sesuatu yang buruk. Berdasarkan hasil survei yang diam-diam saya lakukan terhadap orang-orang sekitar yang menurut saya sudah berhijrah, mereka punya cara masing-masing menyuarakan definisi hijrah yang tentu saja menurut pandangan, versi, juga pengalaman mereka masing-masing. Ini yang membuat saya penasaran tentang kisah-kisah mereka hingga bisa sampai ke depan pintu gerbang hijrah.
Ada yang mendefinisikan hijrah dengan kalimat sederhana “selangkah pada-Mu”, indah, bukan? Kalimatnya sederhana, maknanya ulalaa. Orang yang mendefinisikan hijrah dengan kalimat ini hatinya cenderung telah mengikhlaskan diri kepada Allah, berusaha menaati perintah-Nya, meski hanya selangkah demi selangkah menuju-Nya. Hati yang selalu berusaha berteguh keyakinan atas-Nya. Kaki yang senantiasa diusahakan melangkah di jalan-Nya. Urusan tata menata hati memang bukanlah perkara yang mudah. Bahkan ulama sekali pun sangat sulit yang namanya mengendalikan hati. Karena hati senantiasa dihinggapi penyakit-penyakit yang membelenggu dan susah untuk dikikis habis.
Ibarat tanaman yang  bisa tumbuh kapan saja, dan dimana saja. Artinya penyakit  bisa tumbuh dihati siapa saja. Tapi tanaman hanya akan tumbuh subur jika disirami dan rajin diberi pupuk. Artinya janganlah menyirami dan memberi pupuk pada penyakit-penyakit hati yang mulai tumbuh, agar kemudian ia tak menjadi subur. Sebaliknya, segeralah musnahkan ia dengan racun tanaman berupa lisan yang rajin membaca al-qur’an, amalan baik yang disegerakan, dan kepahitan yang diikhlaskan.

Hidayah, I’m Coming!

Jangan pernah putus asa untuk teguh menunggui gerbang meski engkau terusir. Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meski engkau tertolak. Begitu gerbang telah  terbuka, segeralah masuk selayaknya seorang tamu tak diundang. Kemudian tengadahkan tanganmu di gerbang dan segeralah berkata, ‘Tolonglah, saya adalah orang miskin. Bersedekahlah untuk saya.’” (Ibnu Qayyim)
       
           Di dalam hidup, pasti kita selalu menemui yang namanya masalah. Tertatih, terombang-ambing. Allah sebenarnya telah menyediakan satu pintu menuju-Nya, satu fase menuju hijrah. Namun, kebanyakan dari kita terkadang tidak menyadarinya dan lebih banyak mengabaikannya. Tahukah sahabat pintu apakah itu? Ya, benar dia adalah “hidayah”.
         Orang yang berjalan di jalan yang lurus dia akan mudah terjatuh, mudah lelah dan jenuh. Berbeda dengan orang yang berjalan di jalan yang penuh dengan belokan dan bebatuan, memang ia pasti akan merasakan lelah. Namun dengan adanya belokan dan bebatuan bisa menjadikannya lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Dikala lelah ada saatnya ia beristirahat dan ada waktunya meneruskan perjalanan. Orang yang hanya berjalan lurus, biasanya cepat lelah dan bosan, cenderung tidak sabar dan ingin cepat sampai. Mungkin orang yang berjalan dengan banyak belokan akan menempuh jarak yang lebih jauh. Namun tentu ia akan mengetahui lebih banyak jalan yang harus ia lewati dibanding dengan orang yang berjalan lurus. Pahamkah dengan perumpamaan ini? Diibaratkan seseorang yang mengendarai sepeda motor, jika melalui jalan yang lurus akan mudah mengantuk. Sementara jika melewati jalan yang berbelok dan curam dia tidak mengantuk dan fokus dalam berkendara. Inilah perumpamaan tentang perjalanan hidup manusia. Penuh dengan lika-liku, air mata, kesedihan, dan kekecewaan. Namun tentu akan menemui satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Seperti halnya dengan perjalanan sebuah hijrah, penuh dengan tantangan, kelelahan, ketidakpastian,  keterpurukan dan akhirnya menemui satu pintu gerbang pembawa kesejukkan.
         Ada banyak jalan manusia untuk menemui kado terindah Allah yang bernama hidayah. Karena Allah telah menyediakan banyak pintu untuk kita memasukinya. Banyak orang yang mengatakan, “ah nanti aja tobatnya, gue belum dapet hidayah” atau begini “ah nanti ajj pake kerudungnya, nunggu hidayah nih”. Hello guys, hidayah itu bukan menu makanan di restoran yang tinggal pesen terus duduk manis nunggunya. Hidayah itu kalau diibaratkan kendaraan, kaya mobil kopaja yang datang terus berhentinya gak selalu tepat di depan kita, kan? Nah, kalau begitu kita harus nyamperin si mobil supaya bisa naik dan berangkat ke tempat tujuan. Coba misalkan kita hanya diam tanpa nyamperin si kopaja yang sebenanya udah berhenti gak jauh dari kita berdiri. Ngapain disitu? Nunggu mobil yang lain datang? Katanya gak suka nunggu. Hadeeeeh...
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dan mukjizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-qur’an).” (QS An-Nisa:174)
          Dari mana sih datangnya hidayah? Tenang sahabat, banyak jalan Allah mempertemukan hamba-Nya dengan hidayah, sama seperti Dia mempertemukan hamba-Nya dengan jodoh, ehhh..
   
>> Lingkungan yang menggugah

          Lingkungan adalah faktor terbesar yang mempengaruhi seseorang dalam berpola fikir dan bersikap. Lingkungan dapat merubah seseorang sampai 180 derajat bahkan 360 derajat, gak percaya? Sudah banyak buktinya. Tidak perlu kan saya sebutkan contohnya, tentu sahabat sudah bisa menyimpulkan sendiri. Lingkungan mencakup teman, sahabat, sekolah, universitas, tempat kerja dan lain-lain. Dibalik lingkungan yang baik, akan terlahir jiwa-jiwa yang baik. Hal ini terbukti bahwasanya banyak orang yang tergerak hatinya menuju Allah melalui lingkungan tempat dimana ia sering bergaul dan bersosialisasi. Tentang apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan, apalagi ditambah dengan orang-orang terdekatnya yang senantiasa mengingatkan dan membimbingnya menuju jalan keberkahan.
       Awal ketika Allah menggerakan hati seseorang, pasti akan ada pertimbangan. Ia akan memikirkan matang-matang tentang apa yang akan menjadi pilihannya, tentang langkah yang akan ia ambil ke depannya. Hendak seburuk apa pun orang, ia punya hak untuk berubah menjadi lebih baik. Terlebih jika lingkungan di sekitarnya mendukung. Sesuatu yang muncul akibat daripada lingkungan itu sangat menancap erat dalam diri setiap orang. Karena melalui lingkunganlah ia menilai, melalui lingkunganlah ia bersikap, melalui lingkunganlah ia berfikir, dan melalui lingkunganlah ia memilih. Dari segi lingkungan, hal yang paling mudah berubah dalam diri seseorang adalah penampilannya.
        Misalnya jika seseorang tinggal di lingkungan yang memang orang-orang disitu berpakaian sopan sesuai tuntunan agama, katakanlah seperti pondok pesantren misalnya. Maka ia akan menggunakan pakaian sesuai apa yang biasa dipakai disana, begitu pun sebaliknya, jika ia hidup dan bergaul di tengah orang-orang yang membuka aurat serta berpakaian seenaknya saja, bukan tidak mungkin ia akan mengikuti apa yang mereka pakai. Terkecuali ia mampu benar-benar menjaga dirinya dan tidak mudah untuk terbawa arus, maka ia akan melawan arus bahkan akan membawa mereka bersama-sama dalam arusnya. Dari lingkungan, seseorang belajar dari apa yang ia lihat, belajar dari apa yang dia dengar, dan belajar dari apa yang dia rasakan. Disinilah peran lingkungan terlihat sangat hebat.
       Sejujurnya, hati ini tergerak dan tersindir hebat, saat melihat sahabat terdekat saya mulai berpakaian syar’i sementara saya belum. Saya merasa iri sekaligus malu. Lalu apa yang saya lakukan? Ini semua saya jadikan motivasi dan cambukan terhadap diri ini, saya bangkit bercermin dan merenungi tekad saya, bahwasanya saya akan mencoba untuk berpakaian syar’i sesuai aturan-Nya. Ini bagian daripada iri yang positif, saya tergugah untuk mengikuti sahabat saya namun tentu agar mendapat Ridho-Nya, melalui sahabat sayalah Allah menarik saya dari arus yang keruh ke arus yang jernih.Tahukah sahabat? Pergerakan ini lembut, tanpa adanya paksaan. Kekuatan ini halus, tapi menentramkan. Air mata saksi, namun ia membingkai kebahagiaan. Perlu adanya kesiapan memang, butuh pula keberanian. Harus siap untuk menjadi sosok dengan cara pandang baru, dan harus berani menjadi sosok yang berbeda di tengah orang-orang yang sama.
Ingatkah sahabat dengan pepatah ini? Orang yang berteman dengan tukang minyak wangi (parfum), ia akan tertular wanginya. Sementara orang yang berteman dengan tukang pandai besi, maka akan tertulari percikan apinya. Memang ini hanyalah sebuah perumpamaan. Namun andai kita mau merenung tentu ini benar adanya. Mungkin sahabat akan mengelak dan berkata, “lho, bukannya kita dibolehkan untuk berteman dengan siapa saja?” yups, sahabat benar. Berteman memang boleh, tapi sahabat baik perlu ditentukan. Karena pada dasarnya seseorang menilai diri kita adalah dengan melihat siapa sahabat kita. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, sikap dan sifat seseorang itu tidak berbeda jauh dengan sahabatnya. Bertemanlah sesukamu sahabatku, agar tumbuhlah rasa sosialisasi antar sesama manusia, namun pilihlah ia yang akan kau jadikan sahabat, karena suksesnya dirimu adalah bagian daripada peran sahabatmu. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang sekitarmu, bahagiakanlah serta jadilah sinar yang senantiasa menjadi penerang bagi lingkunganmu.

Jika kau tidak dapat merengkuh sahabatmu dengan kedua tanganmu, maka rengkuhlah ia dengan do’a, agar semoga Allah senantiasa merengkuhnya selalu.~RN

Do’a seorang muslim untuk saudaranya dari jauh ( ketika tidak sedang bersama) adalah do’a yang mustajab. Dikepalanya terdapat malaikat khusus yang setiap kali ia berdo’a untuk saudaranya, maka malaikat itu berkata: ‘Aamiin, dan semoga engkau juga mendapatkan yang serupa’.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

 >> Say thank to masa lalu!

           “Experience is the best teacher”, setiap orang pasti sudah familiar dengan kalimat ini, yang artinya adalah “Pengalaman adalah guru terbaik”. Dalam kehidupan seseorang, pengalaman bisa dikatakan sebagai masa lalu, karena ia adalah bagian dari sesuatu yang telah terlewati. Banyak orang yang tergerak hatinya karena trauma terhadap masa pahit dalam hidupnya, ia tersadar akan kesalahan di masa lalunya. Masa lalu yang menjadi sebuah teguran, cambukan, pelajaran sekaligus pencerahan. Siapa sangka orang yang sangat mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalla adalah orang yang dulunya paling membenci beliau. Siapakah ia? Yups, sahabat benar, ia adalah Sayyidina ‘Ummar bin Khattab. Sebenarnya banyak dari kalangan sahabat yang pada awalnya sangat memusuhi dan membenci islam yang kemudian menjadi pembela sejati agama ini. Inilah bukti bahwasanya hidayah itu teruntuk siapa saja dan akan diberikan dimana saja sesuai kehendak-Nya.
         Allah sebenarnya telah membukakan pintu-pintu kebaikan, meski di tempat buruk sekalipun. Allah senantiasa memberikan cahaya di dalam gelap, memberikan harapan di tengah keputus asaan. Ini hanya tentang bagaimana kita mendekati cahaya dan meraih harapan itu. Orang yang paling buruk hari ini bisa jadi adalah orang yang paling baik di masa yang akan datang, begitu pun orang yang baik hari ini bisa jadi adalah orang yang paling buruk di masa yang akan datang. Maka jangan mudah menilai baik orang hanya karena ia baik di hari ini, jangan pula menilai buruk orang hanya karena keburukannya di masa lalu. Karena setiap orang berhak berubah, setiap orang berhak menjadi baik. Allah maha pembolak-balik hati, Dia akan memberikan hidayah-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
          Maka saudaraku, jangan mencaci orang yang lebih buruk daripada kita. Karena sebenarnya kita tidak lebih baik dari mereka. Lho kok gitu? Karena pada hakikatnya, tidak ada orang baik yang merasa dirinya baik, ya kalau pun ada sebenarnya dialah yang terburuk. Na’udzubillaah.

Sebaik-baik aku, masih lebih baik orang lain dan seburuk-buruk orang lain, masih lebih buruk aku

         Kasus-kasus anak remaja di zaman sekarang ini adalah kelabilan dan pencarian jati diri. Diantara ribuan kisah, banyak orang yang menemukan titik hidayah itu pada masa remajanya. Misalnya nih ya, kegagalan atau kekecewaan dalam soal cinta. Ehem, saya lihat wajah sahabat merah-merah merona saat membahas soal ini. Faktanya, kisah cinta di masa remaja selalu menjadi trending topic yang menarik untuk dibahas dan tidak ada habisnya, kisah cinta selalu menjadi pemikat hati remaja, karena memang inilah masanya. Masa dimana pencarian jati diri dilakukan, masa yang menguras banyak keringat, masa yang membentuk berbagai impian, ya salah satunya impian tentang pasangan hidup, ehh
           Dalam kesehariannya seorang remaja sudah tidak asing dengan kata gegana(gelisah, galau, merana), broken heart, gamang, dan masih buanyak lagi. Dalam kondisi terpuruk akibat hal seperti ini biasanya  remaja membutuhkan tuntunan, sandaran, dan pencerahan. Bagi sahabat yang masih galon alias gagal move on, Allah punya solusi buat menghibur hati sahabat yang lagi galau tingkat dewa, yang khawatir tidak akan dapat jodoh dan menginginkan pasangan yang baik tentunya.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)........”(QS An-Nuur:26)

       Saat hati telah yakin bahwa janji Allah itu benar, dan rasa trauma itu sendiri menjadi tabir untuk tidak kembali ke masa yang kelam. Saya tidak pernah menyesal dengan masa lalu saya, namun saya akan menyesal jika seandainya sampai saat ini saya masih ada disana. Karena bagi saya masa lalu adalah bagian dari sebuah perjalanan yang menuntun saya sampai sejauh ini, bagian dari awal dibukanya kecerahan hati dan kebersyukuran diri. Masa lalu adalah gerbang awal menuju masa depan. Untuk sahabatku yang telah melalui proses ini, bersyukurlah dan berdamailah dengan masa lalu. Bagi sahabatku yang belum sampai, nikmatilah perjalanan dengan senantiasa berproses menuju kebaikan, jangan sampai menyesal sebelum sampai pada tujuan ini. Berbahagialah! Kesempatanmu masih terbuka, tentu saja selama hayat masih dikandung badan.

>>Masalah yang berkah

       Hidup tanpa adanya masalah ibarat memakan sayur yang dimasak tanpa garam, hambar. Masalah datang dari berbagai sumber, entah itu dari dalam keluarga, masyarakat, bahkan konflik bathin dalam diri sendiri adalah sebuah masalah. Terkadang seseorang putus asa dengan masalah yang ia hadapi dan ingin bunuh diri saja. Pernah suatu waktu teman saya bercerita bahwa ia pernah mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk cair. Beruntungnya ia hanya merasakan mual saja karena yang ia minum hanyalah sedikit dan Allah masih menyelamatkan nyawanya. Saya lupa siapa orangnya, namun masalahlah yang membuat imannya menurun dan hilang fikiran sehingga memilih jalan yang tidak masuk akal dan menyalahi agama. Ia terlalu terpuruk dengan masalahnya, sementara fikirannya tersumbat oleh ketidaktahuan serta kejauhan dirinya dari Allah.
       Sebenarnya dalam kehidupan ini masalah muncul saat iman kita bermasalah. Jika iman kita sehat, tak ada masalah yang benar-benar menjadi masalah. Ia yang kita anggap sebagai masalah hanyalah bagian dari ketidakmampuan diri kita untuk pasrah pada-Nya.

Jangan katakan pada Allah bahwa kita punya masalah yang besar, tapi katakanlah pada masalah bahwa kita punya Allah yang Maha Besar. ~anonim

        Wahai jiwa, bangunlah! Bukankah dalam hidup ini Allah telah memotivasi kita dua kali? Satu kesusahan dan dua kemudahan. Ingat dibalik jalan masalah yang susah, ada tujuan yang indah.

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al-insyirah:5-6)

        Ia yang terpuruk, biasanya hatinya tergerak untuk semakin dekat dengan Allah, menggerakan keyakinan pada takdir-Nya, bahwasanya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong dan penguat keterpurukan. Maka tidaklah salah banyak orang yang tergugah dan mengambil hikmah dari musibah dan masalah yang telah dilaluinya. Mereka bangkit dari ketidakpastian, mereka mengikis kekecewaan dan membangun keberanian membangun masa depan, inilah sebuah pilihan, inilah sebuah keterikatan, inilah titik awal benih hidayah tertanam dengan indah. Selamat, selamat sahabatku, keyakinanmu yang menghantarkanmu pada pintu gerbang cinta-Nya. Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.

>>Sosmed oh sosmed

        Siapa sih yang di zaman sekarang gak punya sosmed? Pasti hampir semua orang di dunia ini memilikinya. Yah, diibaratkan sosmed itu sebagai kebutuhan sekunder yang  hampir menyerempet primer. Peran sosial media dalam proses pencarian hidayah adalah hal yang lumrah. Dakwah yang disematkan pada setiap status atau fanspage sosial media (sosmed) bisa menjadi jalan mujarab sebuah perubahan. Ada yang karena sering melihat-lihat dan membaca status tentang keislaman, hukum-hukum dalam islam, serta ilmu-ilmu islam lainnya. Hati kecilnya tergerak dan merubah kehidupannya. Siapa yang menyangka? Toh ini semua benar adanya. Bahwasanya dakwah itu tidak hanya dengan lisan saja, tapi dengan tulisan.
            Seorang teman pernah bercerita bahwasanya salah satu penyebab hijrahnya adalah karena membaca salah satu fanspage di facebook yang menuliskan tentang haramnya berpacaran serta dosa-dosa melakukan kemaksiatan. Dari situlah ia menemukan pilihan dan jalan hidupnya, timbullah rasa malu dalam dirinya terhadap kehidupannya. Ternyata simple saja kisah dibalik perjalan panjangnya menuju kata hijrah dan meraih hidayah. Sebuah kesungguhan muncul pada dirinya, yang asalnya dari sebuah tulisan kumuh yang ternyata ampuh. Maka, mulailah dari sekarang untuk mempergunakan sosial media untuk jalan dakwah. Karena kita tidak pernah tahu hati mana yang tergerak karena tulisan-tulisan kita, tetaplah tuliskan hal-hal yang bermanfaat, semoga itu bisa menjadi amal jariyah kita di masa yang akan datang. Nah kamu, iya kamu. Tunggu apa lagi?

>> Semakin mengenal, semakin cinta

          Siapakah diantara sahabat yang belum pernah merasakan cinta? Banyak sekali hal yang menumbuhkan cinta, salah satunya adalah dengan mengenal sesuatu lebih dalam. Begitu pun dalam mengenal islam, semakin lama dan semakin dalam mengenal mengenal ajarannya maka akan semakin tumbuhlah rasa cinta di dalam dada. Kecintaan inilah yang menghantarkan pada sebuah perubahan kehidupan, baik dalam pandangan, hati, dan juga perilaku. Sahabatku, coba renungkan sudah sejauh manakah engkau mengenal si Dia dibandingkan si dia?
             Bukankah banyak dari para pendeta yang masuk islam dikarenakan ia mempelajari islam dan menemukan keindahan-keindahan di dalamnya. Terbukti bahwa, semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka akan semakin cintalah ia kepada agama islam. Hatinya tergugah, hatinya terbuka dan menjadikan apa yang ia pahami sebagai landasan keimanannya. Ah, sudahlah. Saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang iman, yang jelas dengan imanlah cinta itu tumbuh, dan dengan islamlah iman itu hidup, lalu dengan ilmulah cinta itu abadi.
Ilmu tanpa iman luntur, iman tanpa ilmu ngelantur
                 Kecintaan yang tumbuh pada diri seseorang akan semakin bertambah dengan semakin kenalnya ia pada sesuatu yang membuatnya jatuh cinta. Bagaimana cara menjatuhkan diri dalam kecintaan terhadap islam? Caranya adalah dengan memasrahkan hati, jiwa, fikiran, dan urusan hanya kepada Allah saja. Menjalani apa yang semestinya dijalani, melakukan apa yang semestinya dilakukan, dan selalu ikhlas serta rela menerima nasihat-nasihat baik dari orang lain. Mungkin kebanyakan dari kita adalah orang yang enggan bahkan sulit untuk membuka telinga bagi nasihat-nasihat baik dari orang-orang kita. Memang terkadang nasihat baik itu tidak tersampaikan dengan baik, bahkan sering tersampaikan dengan cara yang pahit. Seperti yang pernah guru saya katakan, “nasihat itu pahit, jika tidak pahit itu bukan nasihat namanya”, setujukah sahabat?
              Kembali kepada keimanan yang telah menjadi kecintaan dan suatu kebutuhan terhadap sebuah kehidupan. Hal inilah yang menggugah hati kecil individu untuk berubah ke jalan yang  lebih indah. Maka jangan sampai ilmu yang kita miliki tidak bertambah, membuat hati keruh dan menjadikan diri sombong. Karena hakikat ilmu sebenarnya adalah yang senantiasa membuat kita takut kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan ada lagi yang Maha Mengetahui” (QS Yusuf:76)

Aku menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali karena Allah
Tenang sahabatku, tulus itu tak akan menemukan kecewa
Berbahagialah ia yang berubah karena ilmu
Berbahagialah ia yang beriman karena ilmu
Berbahagialah ia yang mencintai karena ilmu

                Sahabatku, berhati-hatilah dari kejahatan ilmu yang tidak diiringi dengan iman, ia tak akan menjadi teman apalagi menyelamatkan, melainkan akan menjadi lawan yang akan menghancurkan. Na’udzubillaah. 

 “Tertanda hati dalam secarik tulisan ini, sungguh terbesit sekali dalam diri, kesejukkan dan keindahan hidayah yang tak nampak, hanya hati terenyuh menyapanya, hanya hati terharu menjaganya, hanya hati tertatih mempertahankannya.” ~RN

             Setelah banyak perjalanan yang dapat membuat seseorang sampai pada pintu gerbang hijrah dengan kendaraan hidayah tentunya, akan muncul perasaan-perasaan haru, terkejut, tenang dan merasa memiliki sesuatu yang memang patut dipertahankan. Apa sih itu? Yups, engkau telah mengetahuinya sahabatku, ialah “Hidayah”, satu kata yang tengah menjadi kerinduan bagi orang-orang yang memang ingin menggapainya, satu kata yang menjadi sebuah kekuatan bagi orang-orang yang pernah terpuruk di masa lalunya, satu kata yang patut diresapi dan direnungi bahkan dipertahankan oleh mereka yang tengah mengecap manisnya iman. Diibaratkan saat ini kita tengah menggenggam bara api, dimana saat bara api tersebut terus kita genggam tentulah kita akan merasakan panasnya. Namun, saat dia kita lepaskan, kita memang terbebas dari panas itu, namun hilanglah cahaya, dalam arti hilanglah keimanan dalam diri kita. Na’udzubillaah.
Ibnu Taimiyyah berkata: “Betapa malangnya penduduk dunia yang keluar dari dunia ini tanpa sempat merasakan hal yang paling manis di dalamnya.” Beliau pun kemudian ditanya, “Apakah gerangan hal yang paling manis di dunia ini?”, beliau menjawab, “mencintai Allah adalah yang paling manis di dunia ini.”
Adakah yang lebih mengharukan dari kalimat ini? Saya tekankan lagi kalimat yang beliau ucapkan, “mencintai Allah adalah yang paling manis di dunia ini.” Resapi kata-kata ini sahabatku. Tidakkah ia menggugah hatimu?
             Orang yang telah melewati lika-liku perjalanan dalam pertemuannya dengan hidayah, akan dengan tenang mengatakan bahwa hidayah adalah anugerah terindah, hidayah adalah barokah, dan hidayah adalah sebaik-baik celah. Celah apa? Celah menuju keridhoan-Nya. Selamat menjemputnya sahabatku, selamat merasakan indahnya. Semoga Hijrahku, hijrahmu.. hayuuuk hijrah sama-sama :) 


Beberapa kutipan bersumber dari buku Amru Khalid "Ibadah Sepenuh Hati"


Semoga bermanfaat yaaakkkk~~~


Senin, 27 Maret 2017

            Senja, tahukah ? Sejak tiga tahun lalu, sejujurnya aku tidak pernah tahu lagi isi hatimu. Karena terkadang perkataan tidak selalu mewakili isi hati. Entah perkataan itu hendak sepanjang atau sependek apa pun. Yang aku tahu, engkau adalah lelaki labil yang belum bisa memilih, masih ingin bermain-main saja dengan duniamu.
         Senja, aku sedang dalam proses hijrah. Bukan, bukan berarti aku menghakimimu pendosa, atau bahkan kafir. Kau harus tahu, aku ini bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa. Aku seorang pendosa yang selalu mencoba memperbaiki diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan kau, kau adalah cahaya yang kian hari meredup seakan menjauh dari kehidupanku.
       Sebenarnya, bolehkah aku menuliskan ini ? tak ada maksud memintamu kembali pada langit soreku, hanya saja hatiku tak kuasa menahan tulisan ini tuk keluar melalui jemariku. Berkelanalah, sesukamu. Aku tak akan melarang apalagi mencegahmu. Kau tentu tahu mana yang terbaik untuk hidupmu, bukan? Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, mendengar kisahmu samar-samar dari mereka-mereka yang tahu tentangmu. Karena aku sadar, aku tak lagi tahu tentangmu dari lisanmu.
           Aku menjauh. Ini adalah fase sebelum aku benar-benar menghilang. Entah itu hanya menghilang dari duniamu, ataukah menghilang dari dunia ini. Yang aku tahu, engkau sudah tidak mau lagi mendengarkan kisahku hari kemarin dan harapanku dihari esok. Biarlah, aku tak apa :’) . aku tak apa kau meninggalkanku, asal jangan kau tinggalkan Allah dan kewajibanmu :)
   
*biarkan kita saling melambai, jalan kita masih panjang. Semoga silaturahmi akan tetap terjalinkan.
Sahabat jadi cinta, banyak. Tapi cinta jadi sahabat ? semoga saja, semoga tidak ada kebencian. Sukses selalu. Raihlah apa yang kau cita-citakan. Tak perlu menengok ke belakang, cukup seperlunya saja. Karena di depan ada  masa depan, jemputlah ia. Siapa pun itu. Sampai jumpa di pelaminan, entah duduk disampingmu atau pun hanya sekedar duduk di kursi undangan. :D

*teruntuk senja di langit jingga, SEMOGA BAHAGIA 

Selasa, 17 Januari 2017

Klimaks

Ada yang aneh dengan negeri ini
Sesuatu yang harusnya terselesaikan, malah semakin rumit terbengkalai
Kebenaran tenggelam, sulit tuk ditemukan
Yang baik bungkam, yang buruk melambung tinggi tertiup kebencian
Ada yang lebih kencang dari angin topan
Ada yang lebih panas dari matahari
Ada yang lebih dingin dari es
Pernahkah belajar fisika?
Gesekan memiliki dua sisi berbeda
Ada kalanya menguntungkan
Ada kalanya merugikan

Kebingungan atas keberpihakan
Membuat nurani terjerembab pada ketidak pastian dan ketakutan
Hanya takut salah menempuh jalan
Hanya takut salah memilih pengemban amanah
Rakyat menjerit, namun sekitar seakan tuli
Terbius argumen sendiri
Ego dilambungkan
Keadilan diduakan
Lalu, akan menuntut keadilan pada siapa rakyat ini?

Mengapa demonstrasi mengudara?
Mengapa sumpah serapah menjadi senjata?
Mengapa kebencian merajalela?
Jawabnya ada pada jiwa
Sudah sepeduli apakah pada Indonesia?
Apa hanya merenggut kenyamanan dan kebebasan semata?
Kebahagiaan bukankah tidak akan lama?
Kebermanfaatan untuk sesama adalah yang utama
Wahai, pemimpin
Wahai, pengemban amanah
Wahai....
Kemana lagi rakyat harus mengadu?
Apa harus meminta belas kasihan tetangga?
Andai tak mampu, katakan saja
Tolong jangan bersembunyi dibalik manisnya kata
Rakyatmu ini butuh rengkuhan
Bukan ancaman
Bukan tekanan
BUKAN!!!!!!!!

Kemarilah, kembali pada yang Esa
Berhentilah, berhenti merasa
Tenggelamkan ego hingga ke dasarnya
Jangan biarkan muncul ke permukaan dan tumbuh subur
Yang kuat bukan mereka yang menang karena egonya
Tapi yang kuat, ialah mereka yang mampu meredam amarahnya
Kembalilah, kembalilah
Ulurkan tangan, rendahkan hati, dan kembangkan senyum
Berhentilah, berhentilah
Berhenti membenci dan berhenti mencaci 

                            Jayanti, 16 januari 2017       

Selasa, 22 November 2016

Kau, iya kau~

           Hari berdendang, mengurai riang. Langit berseri, mengunjuk gigi. Ah, aku lupa, bukankah langit tak punya gigi? Tanah berdering membunyikan nada sendunya. Apa sendu menguntai dering? Fiuhhh, aku lupa! Tidak, sendu tidak berdering, namun sendu merintih perih. Namun tidak begitu dengan apa yang kau rasakan. Sendu justru tak pernah mempunyai ruang diharimu, senyum selalu hangat kau bagi. Rasanya ingin kumiliki senyum itu sepenuhnya, ingin kuraih ceria itu seutuhnya, iya, ingin! Bahkan sangat ingin. Tapi apa pantas? Seseorang sepertiku yang menggenggammu?
        Tatapanmu tajam, menggugah siapa saja yang menatapmu, terutama aku. Tak banyak kata yang kau ucap, namun tindakanmu sudah berlaku sebagai isyarat. Tahukah? Kau  selalu baik padaku, tanpa sapa, namun dari sikapmu aku mengerti. Ada cinta dihatimu, kau tak ungkap itu. Bagaimana aku bisa mengerti? Lagi-lagi tatapanlah yang berbicara. Ah, bagaimana akan aku untaikan ini lewat kata, sementara cinta itu tak pernah terucap sebenarnya.
         Aku mengenamu tanpa sebuah perencanaan, perkenalan yang datar. Seiring berjalan waktu sajalah aku memahamimu. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah peduli awalnya kepadamu dan sikapmu, aku tak acuh. Entah aku pun tak ingat bagaimana sikapku dahulu terhadapmu. Yang jelas, yang aku tahu sudah sejak lama aku mengenalmu dan kau mengenalku. Sudah kulewati perjalanan panjang bersamamu. Sungguh, aku tak pernah meminta apa pun kepadamu. Namun, kau selalu memberikannya. Tanpa terima kasih aku selalu menerimanya. Salahkah aku?
       Bergantinya hari selalu teriring sejarah, cintamu tak pernah berkurang atau bahkan menghilang. Namun aku? Aku terlalu naif untuk menyatakan bahwa aku mencintaimu. Karena bagiku itulah sebuah kegugupan. Aku selalu ragu mengungkapnya. Sampai daun pun mendesakku, angin merayuku, langit menghentakku. STOP! Aku belum berani! Tolong jangan paksa aku untuk mengatakannya, karena kufikir ini tak bisa kuungkap dengan kata. Ini masalah beningnya rasa, sudahlah... Jangan biarkan ia keruh akhirnya.
      Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau sayangi, aku tahu. Aku tahu, aku bukan satu-satunya wanita yang kau istimewakan, iya aku tahu. Ada ia, wanita yang lebih kau cintai dan istimewakan. Namun sejujurnya, tak pernah terbesit istilah cemburu di hati ini. Aku selalu mencintaimu, bahkan kau pun begitu.  Apa aku marah kepada wanita itu? TIDAK! Aku justru begitu menyayanginya, aku mencintainya sebagaimana yang dilakukanmu. Mungkin ini terdengar bodoh, namun lebih bodoh lagi jika aku tak mencintai wanita itu. Kau  yang selalu mengajariku untuk mencintai sesama, yang menarikku dari keterpurukan hariku. Mentari memang hangat, namun hangat itu lebih berharga saat aku disampingmu. Kau memang tak pernah mengatakan bahwa kau selalu mendo’akanku. Namun do’amu selalu berhembus lembut dihidupku, dan aku rasakan itu.
      Senja beranjak dari peraduannya, menggeliat keluar dari tempatnya bersemayam, apa ia bosan disana? Tidak! Memang seharusnya ia ada di langit jingga di setiap sore merona. Kau bangkit dari letihmu, tanpa keluh kau kayuh perlahan hari. Berjalan gagah dengan sarung kotak-kotak sebagai bawahan menghadap Rabb dengan panggilan lembut adzan yang sayup-sayup terdengar samar dari ujung kampung. Tak lama suara lembut nan merdu terdengar di mushola kumuh yang kau buru. Iya, perjalananmu kau tujukan ke mushola itu. Aku terpejam, menghayati tiap-tiap bait lantunan cinta yang kau suarakan. Suaramu meresap sebagai panggilan hati, menggali naluri bathin yang berkecamuk misteri, melerai kepenatan di setiap hari yang telah dijalani. Iya, diujung hari selalu menuai senyum di bibir ini. Tidak hanya senja yang kau sapa dengan merdu lantunanmu. Gelap dan dinginnya subuh pun kau sapa dengan gembira. Layakkah kau kuabaikan?
         Perjuanganmu untukku tak pernah sampai pada titik pemberhentian. Aku pun bingung sebenarnya apa yang kau tuju. Aku hanya takut menuai kecewa atas cinta yang kau beri. Terlebih cinta kepada wanita itu yang selalu ku tata dan ku resapi. Tanyaku, apa aku bisa bertahan tanpa cintamu? Apa wanita itu akan selamanya mencintaiku jua? Atau hanya aku yang terlalu takut cinta itu pudar? Bukan! Yang aku takut adalah aku tersesat tanpa arah, aku bimbang tanpa tujuan dan akhirnya ia kecewa. Fiuuhh, biarlah aku beristirahat sejenak dari lelah ini. Iya, aku tahu dan aku mengerti kini. Bahwa berjuang itu lelah, begitulah kau menasihatiku dengan perjuangannya terhadapku. Biarlah, biar saja kau menjatuhkan cinta secinta-cintanya pada wanita itu. Aku tak bersedih, aku bahagia bahkan saaaaaangat bahagia. Terlepas dari belenggu perjuanganmu yang sebenarnya aku bingung tuk membalasnya. Sapaku mungkin tak selalu sampai, namun do’aku untuk kebaikanmu  dan wanita itu selalu teruntai. Sudahlah, sudah biarkan akau meresapi diri ini, karena bergantung pada cinta dan perjuanganmu saja hanya kan membuatku tak pernah berkembang menjadi aku. Biarlah aku bahagiakanmu dengan caraku. Kau yang selalu mencintaiku, kau yang membuatku paham akan arti cinta itu sebenarnya, kau dengan suara merdu adzanmu, kau  yang berkeringat namun selalu taat, kau hebat, kau x-man sejati. Kau yang tak pernah kusadari perjuangannya, lelaki super yang melebihi super dede. Ah, andai saja aku mampu mengungkap cinta ini kepadamu yang diam-diam dari jauh selalu menghadiahkan cinta dan sapanya untukku. Teruslah bahagia dan cintai wanita itu, wanita yang melahirkanku dan mendidikku di madrasah pertama. Kau, iya kau AYAH, Aku mencintaimu~