Ketika Jilbab Menjuntai Indah
Akhwat : “Masya Allah. Kamu cantik banget pake kerudung gede. Pengen deh kaya kamu.”
Ikhwan : “Masya Allah ukht, adem banget anti pake pakaian syar’i”
Ini komentar orang-orang sekitar saat melihat akhwat yang memakai pakaian syar’i, dimana jilbab dan kerudung yang menjuntai indah membuat seorang akhwat menjadi lebih anggun. Sekilas tidak ada yang salah dengan dua komentar di atas, baik komentar dari akhwat yang lain maupun dari ikhwan. Karena faktanya, memang akhwat yang berpakaian syar’i terlihat jauh lebih anggun. Eittsss. Tapi jangan salah, komentar di atas bisa saja jadi masalah buat orang yang bersangkutan (si akhwat yang jadi objek). Lho kok, gitu? coba cek, dua kalimat itu mengandung pujian, yang secara hakikatnya jika itu ditujukan pada pada seorang akhwat akan sangat mengganggu keimanannya. Pujian sebenarnya adalah sebuah ujian, dalam konteks ini akhwat yang dipuji akan senantiasa diuji keimanan serta niatnya dalam berpakaian syar’i. Ia harus senantiasa mempertahankan niatnya lillah. Tahukah sahabat? Ini saaangat tidak mudah. Hati seseorang yang telah dipuji biasanya akan mengharapkan pujian itu terulang. Sungguh hal ini tidak bisa dipungkiri. Namun tentunya bagi seorang muslimah yang senantiasa menjaga iffahnya, ia akan selalu berusaha untuk menghindarkan perasaan senang dipuji dihatinya, dan inilah tantangan terberat baginya.
Ada akhwat yang dipuji ia hanya membalasnya dengan senyuman saja, ada pula yang membalasnya dengan perkataan halus “ ‘afwan, saya tidak sebaik yang antum kira”, bahkan ada pula yang bersedih hati ketika mendapat pujian itu. Wallahu a’lam. Lalu bagaimanakah sebenarnya yang harus seorang akhwat lakukan? Tetaplah perbaiki niatmu ukht, jangan sampai pujian menjerumuskanmu pada kenistaan, jangan sampai ia yang mengikis pahala amalanmu yang awalnya kau niatkan sungguh-ungguh karena Allah. Berhentilah berhias hanya karena ingin terlihat cantik di mata orang. Tetapi lebih jauh dari itu, jilbab dan kerudungmu adalah kemuliaanmu yang akan engkau pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Ukhty..
Jilbabmu yang akan menjadi saksi ketaatanmu pada Rabbmu
Kerudungmu yang akan menjuntai pahala dalam balutan cahaya yang memancar dalam dirimu
Keelokanmu adalah buah dari ketaatanmu
Keanggunanmu adalah hadiah dari keberanianmu menghardik rasa malu
Mereka yang mengagumimu hanyalah sebagai pembangkit motivasimu
Sesungguhnya hanya Allah yang tahu isi hatimu
Ukhty...
Bagian dari hatimu bukankah telah kau isi dengan cinta-Nya?
Maka jangan rusak ia dengan pujian yang sebenarnya adalah sebuah ujian
Ingatlah, ini adalah kewajiban yang hadiahnya bukan pujian
Melainkan suatu keridhoan Allah yang akan menjadi sebuah bingkisan
Allah tahu ukht, Allah tahu..
Allah tahu kesakitanmu menuju jalan-Nya
Allah tahu letihnya perjalananmu menggapai hidayah-Nya
Allah tahu, maka jangan rusak itu dengan terlena akan pujian abstrak yang fatamorgana
(RN)
Sahabatku, mari perbaiki niat, terus perbaiki. Biarlah jilbabmu menjuntai indah seindah keimananmu. Anggap saja pujian itu sebagai cambukan bagimu untuk semakin menambah amalmu.
“Sudah berjilbab, tapi kok kelakuannya begitu?”, nah lho, tadi dipuji sekarang dicaci. Namanya juga manusia, mau kita melakukan hal-hal baik sekali pun, pasti ada saja yang berkomentar negatif. Maka dari itu sebagai manusia yang strong, harus punya telinga tebal, hati yang kuat dan emosi yang terkontrol. Yaaa kalau ada yang mencaci dengan berkomentar negatif kaya begitu tinggal disenyumin aja. Saudaraku, ingat akhlak dengan jilbab adalah dua hal yang saaaaaangat jauh berbeda. Ia yang berjilbab tidak menjamin akhlaknya baik. Sederhananya begini, jilbab adalah kewajiban yang mutlak datangnya dari Allah, sementara akhlak adalah kepribadian yang dimiliki masing-masing orang. ia yang berjilbab namun akhlaknya masih kurang, jangan dicaci, nasihati dan biarlah dia memperbaiki diri, karena hakikatnya jilbab adalah sebuah nasihat agar senantiasa memperbaiki diri. Telah jelas dalam al-qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “......dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.....” (QS An-Nur:31)
Ini adalah bukti bahwa jilbab yang menutup dada adalah murni perintah Allah, sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, sementara akhlak adalah sesuatu yang kapan saja bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu. Bukankah jika telah kita jalankan kewajiban kita, maka akhlak akan mengikuti dengan sendirinya? Jilbab menjadi reminder agar senantiasa melakukan hal-hal baik. Ketika hendak membicarakan orang lain, hati mengingat “malu sama jilbab”, begitu seterusnya. Tenang ukht, ini bukan soal munafik atau apa, namun ini adalah bagian dari sebuah usaha mempertahankan keimanan serta keyakinan dalam diri.
Mulai sekarang, yuk jaga lisan, ingat bahwa bukan kamu saja yang punya lisan. Orang-orang sekitarmu juga punya lisan, maka mereka bisa saja membicarakanmu kapan saja. Karena setiap suaramu adalah gema yang bunyinya akan kembali lagi pada dirimu. Berhati-hati terhadap lisan, berhati-hati terhadap sikap, alangkah indah jika kita menjadi agen muslim yang baik. Tersenyumlah pada ia yang mencacimu, karena ia tak pernah tahu perjuanganmu menggapai hidupmu yang sekarang. Jangan jadi pendendam hanya karena perkataan yang menyakitkan. Biarlah segala perkataan yang sampai pada gendang telingamu kau jadikan sebagai kekuatan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Jangan jadikan perkataan negatif mereka sebagai alasanmu untuk berhenti berjuang ukht.
Emas itu berasal dari lumpur yang kotor, diinjak, disaring dan ditempa sampai akhirnya menjadi emas yang berharga. Saya selalu ingat kata-kata dari guru saya sewaktu SMA, beliau mengatakan, “Mutiara akan tetap menjadi mutiara, dimanapun ia berada meski di lumpur hitam sekalipun”.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah SWR. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendirir bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangakn kecuali dengan berhimpun karena Allah. Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhoan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”
Sungguh, kata-kata ini yang selalu membangkitkan semangat serta keimanan saya saat keterpurukan melanda diri. Kata-kata ini yang menjadikan saya senantiasa merasakan ketenangan dan langsung terbesit di dalam ingatan kepada perintah-Nya. Tersadar bahwa diri ini masih sangat jauh dari-Nya, masih lalai menjalankan perintahnya. Inilah perasaan-perasaan yang muncul dari hati. Ia akan mengalir lembut, jika hati tersentuh dan terenyuh. Sahabatku, di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api... obatnya tidak lain adalah “mengenal Allah.”
Berbicara tentang hati, ini bagian yang sangat sensitif sekali. Hati adalah penunjang kehidupan, ia adalah gambaran dimana baik dan buruknya seseorang adalah tergantung hatinya. Dalam hati ada bisikan lembut yang mendorong diri untuk senantiasa melakukan kebaikan, namun hati pula mudah keruh, mudah terjangkit berbagai penyakit. Sebut saja iri, dengki, hasad, sombong, dendam dan berbagai penyakit hati lainnya. Jangan jadi pendendam, karena dendam akan menyengsarakan hari-harimu, mengotori hatimu dengan hal-hal yang semestinya tak kau fikirkan. Jadilah saja pemaaf, karena orang yang mulia adalah orang yang mudah memaafkan. Perlu kau ingat sahabatku, bahwa orang yang memaafkan bukan berarti ia lemah, namun ia sadar bahwasanya setiap orang pernah melakukan kesalahan. Maka, hati-hatilah dengan hati. Ia mudah sekali berubah dan terbolak-balik. Jangan biarkan dunia menguasai hatimu sahabatku. Biarkan dunia di tanganmu, dan akhirat di hatimu.
Imam abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat: pertama, ketika membaca al-qur’an; kedua, ketika shalat; dan ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau tidak sedang mempunyainya!”
Ini tentang dirimu, hidupmu, mimpimu, tujuanmu. ketika sebaik-baik pengharapan adalah Allah begitu pun sebaik-baik tempat kembali. karena dirimu ada di dunia ini untuk menebar manfaat bagi sekelilingmu. Jika kau tak mampu menerjang ombak, setidaknya kau mampu membuat perahu. kau tidak akan terus menerus berada di lautan tenang, karen hidup nyatanya perlu berjuang. Ini tentang bagaimana kita mencintai hidup :'')
Senin, 04 September 2017
Kamis, 17 Agustus 2017
Hijrahku, hijrahmu :)
Hijrah itu lelah
Hijrah itu susah
Hijrah itu gerah
Hijrah itu pasrah
Tapi hijrah tak akan ada jika menyerah, hijrah tak akan bertahan lama jika tak istiqomah
Hijrah itu proses, sampai kapan? Sampai keringat terakhir berhenti menetes
Hijrah itu indah, jika lillah
Terseok, terombang-ambing, terhantam ombak, bahkan tenggelam
Sibuklah sesibuk-sibuknya, namun jangan sampai lupa selupa-lupanya
(RN)
Hijrah itu apa, sih?
Hijrah berasal dari bahasa arab “hijrotun” yang artinya:
Pindah, menjauhi atau menghindar
Kerasnya sesuatu; berarti tengah hari di waktu panas sangat menyengat (keras)
>> Lingkungan yang menggugah
Hijrah itu susah
Hijrah itu gerah
Hijrah itu pasrah
Tapi hijrah tak akan ada jika menyerah, hijrah tak akan bertahan lama jika tak istiqomah
Hijrah itu proses, sampai kapan? Sampai keringat terakhir berhenti menetes
Hijrah itu indah, jika lillah
Terseok, terombang-ambing, terhantam ombak, bahkan tenggelam
Sibuklah sesibuk-sibuknya, namun jangan sampai lupa selupa-lupanya
(RN)
Hijrah itu apa, sih?
Hijrah berasal dari bahasa arab “hijrotun” yang artinya:
Pindah, menjauhi atau menghindar
Kerasnya sesuatu; berarti tengah hari di waktu panas sangat menyengat (keras)
Secara bahasa hijrah itu adalah menjauhi sesuatu dengan sangat keras karena adanya ketidak setujuan dan kebencian.
Nah, definisi hijrah menurut bahasa di atas berarti berpindah. Jika berpindah pasti ada yang ditinggalkan, bukan? Yang ditinggalkan ini jangan sampai didekati lagi. Karena sudah pasti yang kita tinggalkan pada saat hijrah tersebut adalah sesuatu yang buruk. Berdasarkan hasil survei yang diam-diam saya lakukan terhadap orang-orang sekitar yang menurut saya sudah berhijrah, mereka punya cara masing-masing menyuarakan definisi hijrah yang tentu saja menurut pandangan, versi, juga pengalaman mereka masing-masing. Ini yang membuat saya penasaran tentang kisah-kisah mereka hingga bisa sampai ke depan pintu gerbang hijrah.
Ada yang mendefinisikan hijrah dengan kalimat sederhana “selangkah pada-Mu”, indah, bukan? Kalimatnya sederhana, maknanya ulalaa. Orang yang mendefinisikan hijrah dengan kalimat ini hatinya cenderung telah mengikhlaskan diri kepada Allah, berusaha menaati perintah-Nya, meski hanya selangkah demi selangkah menuju-Nya. Hati yang selalu berusaha berteguh keyakinan atas-Nya. Kaki yang senantiasa diusahakan melangkah di jalan-Nya. Urusan tata menata hati memang bukanlah perkara yang mudah. Bahkan ulama sekali pun sangat sulit yang namanya mengendalikan hati. Karena hati senantiasa dihinggapi penyakit-penyakit yang membelenggu dan susah untuk dikikis habis.
Ibarat tanaman yang bisa tumbuh kapan saja, dan dimana saja. Artinya penyakit bisa tumbuh dihati siapa saja. Tapi tanaman hanya akan tumbuh subur jika disirami dan rajin diberi pupuk. Artinya janganlah menyirami dan memberi pupuk pada penyakit-penyakit hati yang mulai tumbuh, agar kemudian ia tak menjadi subur. Sebaliknya, segeralah musnahkan ia dengan racun tanaman berupa lisan yang rajin membaca al-qur’an, amalan baik yang disegerakan, dan kepahitan yang diikhlaskan.
Hidayah, I’m Coming!
“Jangan pernah putus asa untuk teguh menunggui gerbang meski engkau terusir. Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meski engkau tertolak. Begitu gerbang telah terbuka, segeralah masuk selayaknya seorang tamu tak diundang. Kemudian tengadahkan tanganmu di gerbang dan segeralah berkata, ‘Tolonglah, saya adalah orang miskin. Bersedekahlah untuk saya.’” (Ibnu Qayyim)
Di dalam hidup, pasti kita selalu menemui yang namanya masalah. Tertatih, terombang-ambing. Allah sebenarnya telah menyediakan satu pintu menuju-Nya, satu fase menuju hijrah. Namun, kebanyakan dari kita terkadang tidak menyadarinya dan lebih banyak mengabaikannya. Tahukah sahabat pintu apakah itu? Ya, benar dia adalah “hidayah”.
Orang yang berjalan di jalan yang lurus dia akan mudah terjatuh, mudah lelah dan jenuh. Berbeda dengan orang yang berjalan di jalan yang penuh dengan belokan dan bebatuan, memang ia pasti akan merasakan lelah. Namun dengan adanya belokan dan bebatuan bisa menjadikannya lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Dikala lelah ada saatnya ia beristirahat dan ada waktunya meneruskan perjalanan. Orang yang hanya berjalan lurus, biasanya cepat lelah dan bosan, cenderung tidak sabar dan ingin cepat sampai. Mungkin orang yang berjalan dengan banyak belokan akan menempuh jarak yang lebih jauh. Namun tentu ia akan mengetahui lebih banyak jalan yang harus ia lewati dibanding dengan orang yang berjalan lurus. Pahamkah dengan perumpamaan ini? Diibaratkan seseorang yang mengendarai sepeda motor, jika melalui jalan yang lurus akan mudah mengantuk. Sementara jika melewati jalan yang berbelok dan curam dia tidak mengantuk dan fokus dalam berkendara. Inilah perumpamaan tentang perjalanan hidup manusia. Penuh dengan lika-liku, air mata, kesedihan, dan kekecewaan. Namun tentu akan menemui satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Seperti halnya dengan perjalanan sebuah hijrah, penuh dengan tantangan, kelelahan, ketidakpastian, keterpurukan dan akhirnya menemui satu pintu gerbang pembawa kesejukkan.
Ada banyak jalan manusia untuk menemui kado terindah Allah yang bernama hidayah. Karena Allah telah menyediakan banyak pintu untuk kita memasukinya. Banyak orang yang mengatakan, “ah nanti aja tobatnya, gue belum dapet hidayah” atau begini “ah nanti ajj pake kerudungnya, nunggu hidayah nih”. Hello guys, hidayah itu bukan menu makanan di restoran yang tinggal pesen terus duduk manis nunggunya. Hidayah itu kalau diibaratkan kendaraan, kaya mobil kopaja yang datang terus berhentinya gak selalu tepat di depan kita, kan? Nah, kalau begitu kita harus nyamperin si mobil supaya bisa naik dan berangkat ke tempat tujuan. Coba misalkan kita hanya diam tanpa nyamperin si kopaja yang sebenanya udah berhenti gak jauh dari kita berdiri. Ngapain disitu? Nunggu mobil yang lain datang? Katanya gak suka nunggu. Hadeeeeh...
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dan mukjizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-qur’an).” (QS An-Nisa:174)
Dari mana sih datangnya hidayah? Tenang sahabat, banyak jalan Allah mempertemukan hamba-Nya dengan hidayah, sama seperti Dia mempertemukan hamba-Nya dengan jodoh, ehhh..
>> Lingkungan yang menggugah
Lingkungan adalah faktor terbesar yang mempengaruhi seseorang dalam berpola fikir dan bersikap. Lingkungan dapat merubah seseorang sampai 180 derajat bahkan 360 derajat, gak percaya? Sudah banyak buktinya. Tidak perlu kan saya sebutkan contohnya, tentu sahabat sudah bisa menyimpulkan sendiri. Lingkungan mencakup teman, sahabat, sekolah, universitas, tempat kerja dan lain-lain. Dibalik lingkungan yang baik, akan terlahir jiwa-jiwa yang baik. Hal ini terbukti bahwasanya banyak orang yang tergerak hatinya menuju Allah melalui lingkungan tempat dimana ia sering bergaul dan bersosialisasi. Tentang apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan, apalagi ditambah dengan orang-orang terdekatnya yang senantiasa mengingatkan dan membimbingnya menuju jalan keberkahan.
Awal ketika Allah menggerakan hati seseorang, pasti akan ada pertimbangan. Ia akan memikirkan matang-matang tentang apa yang akan menjadi pilihannya, tentang langkah yang akan ia ambil ke depannya. Hendak seburuk apa pun orang, ia punya hak untuk berubah menjadi lebih baik. Terlebih jika lingkungan di sekitarnya mendukung. Sesuatu yang muncul akibat daripada lingkungan itu sangat menancap erat dalam diri setiap orang. Karena melalui lingkunganlah ia menilai, melalui lingkunganlah ia bersikap, melalui lingkunganlah ia berfikir, dan melalui lingkunganlah ia memilih. Dari segi lingkungan, hal yang paling mudah berubah dalam diri seseorang adalah penampilannya.
Misalnya jika seseorang tinggal di lingkungan yang memang orang-orang disitu berpakaian sopan sesuai tuntunan agama, katakanlah seperti pondok pesantren misalnya. Maka ia akan menggunakan pakaian sesuai apa yang biasa dipakai disana, begitu pun sebaliknya, jika ia hidup dan bergaul di tengah orang-orang yang membuka aurat serta berpakaian seenaknya saja, bukan tidak mungkin ia akan mengikuti apa yang mereka pakai. Terkecuali ia mampu benar-benar menjaga dirinya dan tidak mudah untuk terbawa arus, maka ia akan melawan arus bahkan akan membawa mereka bersama-sama dalam arusnya. Dari lingkungan, seseorang belajar dari apa yang ia lihat, belajar dari apa yang dia dengar, dan belajar dari apa yang dia rasakan. Disinilah peran lingkungan terlihat sangat hebat.
Sejujurnya, hati ini tergerak dan tersindir hebat, saat melihat sahabat terdekat saya mulai berpakaian syar’i sementara saya belum. Saya merasa iri sekaligus malu. Lalu apa yang saya lakukan? Ini semua saya jadikan motivasi dan cambukan terhadap diri ini, saya bangkit bercermin dan merenungi tekad saya, bahwasanya saya akan mencoba untuk berpakaian syar’i sesuai aturan-Nya. Ini bagian daripada iri yang positif, saya tergugah untuk mengikuti sahabat saya namun tentu agar mendapat Ridho-Nya, melalui sahabat sayalah Allah menarik saya dari arus yang keruh ke arus yang jernih.Tahukah sahabat? Pergerakan ini lembut, tanpa adanya paksaan. Kekuatan ini halus, tapi menentramkan. Air mata saksi, namun ia membingkai kebahagiaan. Perlu adanya kesiapan memang, butuh pula keberanian. Harus siap untuk menjadi sosok dengan cara pandang baru, dan harus berani menjadi sosok yang berbeda di tengah orang-orang yang sama.
Ingatkah sahabat dengan pepatah ini? Orang yang berteman dengan tukang minyak wangi (parfum), ia akan tertular wanginya. Sementara orang yang berteman dengan tukang pandai besi, maka akan tertulari percikan apinya. Memang ini hanyalah sebuah perumpamaan. Namun andai kita mau merenung tentu ini benar adanya. Mungkin sahabat akan mengelak dan berkata, “lho, bukannya kita dibolehkan untuk berteman dengan siapa saja?” yups, sahabat benar. Berteman memang boleh, tapi sahabat baik perlu ditentukan. Karena pada dasarnya seseorang menilai diri kita adalah dengan melihat siapa sahabat kita. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, sikap dan sifat seseorang itu tidak berbeda jauh dengan sahabatnya. Bertemanlah sesukamu sahabatku, agar tumbuhlah rasa sosialisasi antar sesama manusia, namun pilihlah ia yang akan kau jadikan sahabat, karena suksesnya dirimu adalah bagian daripada peran sahabatmu. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang sekitarmu, bahagiakanlah serta jadilah sinar yang senantiasa menjadi penerang bagi lingkunganmu.
Jika kau tidak dapat merengkuh sahabatmu dengan kedua tanganmu, maka rengkuhlah ia dengan do’a, agar semoga Allah senantiasa merengkuhnya selalu.~RN
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya dari jauh ( ketika tidak sedang bersama) adalah do’a yang mustajab. Dikepalanya terdapat malaikat khusus yang setiap kali ia berdo’a untuk saudaranya, maka malaikat itu berkata: ‘Aamiin, dan semoga engkau juga mendapatkan yang serupa’.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)
>> Say thank to masa lalu!
“Experience is the best teacher”, setiap orang pasti sudah familiar dengan kalimat ini, yang artinya adalah “Pengalaman adalah guru terbaik”. Dalam kehidupan seseorang, pengalaman bisa dikatakan sebagai masa lalu, karena ia adalah bagian dari sesuatu yang telah terlewati. Banyak orang yang tergerak hatinya karena trauma terhadap masa pahit dalam hidupnya, ia tersadar akan kesalahan di masa lalunya. Masa lalu yang menjadi sebuah teguran, cambukan, pelajaran sekaligus pencerahan. Siapa sangka orang yang sangat mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalla adalah orang yang dulunya paling membenci beliau. Siapakah ia? Yups, sahabat benar, ia adalah Sayyidina ‘Ummar bin Khattab. Sebenarnya banyak dari kalangan sahabat yang pada awalnya sangat memusuhi dan membenci islam yang kemudian menjadi pembela sejati agama ini. Inilah bukti bahwasanya hidayah itu teruntuk siapa saja dan akan diberikan dimana saja sesuai kehendak-Nya.
Allah sebenarnya telah membukakan pintu-pintu kebaikan, meski di tempat buruk sekalipun. Allah senantiasa memberikan cahaya di dalam gelap, memberikan harapan di tengah keputus asaan. Ini hanya tentang bagaimana kita mendekati cahaya dan meraih harapan itu. Orang yang paling buruk hari ini bisa jadi adalah orang yang paling baik di masa yang akan datang, begitu pun orang yang baik hari ini bisa jadi adalah orang yang paling buruk di masa yang akan datang. Maka jangan mudah menilai baik orang hanya karena ia baik di hari ini, jangan pula menilai buruk orang hanya karena keburukannya di masa lalu. Karena setiap orang berhak berubah, setiap orang berhak menjadi baik. Allah maha pembolak-balik hati, Dia akan memberikan hidayah-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Maka saudaraku, jangan mencaci orang yang lebih buruk daripada kita. Karena sebenarnya kita tidak lebih baik dari mereka. Lho kok gitu? Karena pada hakikatnya, tidak ada orang baik yang merasa dirinya baik, ya kalau pun ada sebenarnya dialah yang terburuk. Na’udzubillaah.
Sebaik-baik aku, masih lebih baik orang lain dan seburuk-buruk orang lain, masih lebih buruk aku
Kasus-kasus anak remaja di zaman sekarang ini adalah kelabilan dan pencarian jati diri. Diantara ribuan kisah, banyak orang yang menemukan titik hidayah itu pada masa remajanya. Misalnya nih ya, kegagalan atau kekecewaan dalam soal cinta. Ehem, saya lihat wajah sahabat merah-merah merona saat membahas soal ini. Faktanya, kisah cinta di masa remaja selalu menjadi trending topic yang menarik untuk dibahas dan tidak ada habisnya, kisah cinta selalu menjadi pemikat hati remaja, karena memang inilah masanya. Masa dimana pencarian jati diri dilakukan, masa yang menguras banyak keringat, masa yang membentuk berbagai impian, ya salah satunya impian tentang pasangan hidup, ehh
Dalam kesehariannya seorang remaja sudah tidak asing dengan kata gegana(gelisah, galau, merana), broken heart, gamang, dan masih buanyak lagi. Dalam kondisi terpuruk akibat hal seperti ini biasanya remaja membutuhkan tuntunan, sandaran, dan pencerahan. Bagi sahabat yang masih galon alias gagal move on, Allah punya solusi buat menghibur hati sahabat yang lagi galau tingkat dewa, yang khawatir tidak akan dapat jodoh dan menginginkan pasangan yang baik tentunya.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)........”(QS An-Nuur:26)
Saat hati telah yakin bahwa janji Allah itu benar, dan rasa trauma itu sendiri menjadi tabir untuk tidak kembali ke masa yang kelam. Saya tidak pernah menyesal dengan masa lalu saya, namun saya akan menyesal jika seandainya sampai saat ini saya masih ada disana. Karena bagi saya masa lalu adalah bagian dari sebuah perjalanan yang menuntun saya sampai sejauh ini, bagian dari awal dibukanya kecerahan hati dan kebersyukuran diri. Masa lalu adalah gerbang awal menuju masa depan. Untuk sahabatku yang telah melalui proses ini, bersyukurlah dan berdamailah dengan masa lalu. Bagi sahabatku yang belum sampai, nikmatilah perjalanan dengan senantiasa berproses menuju kebaikan, jangan sampai menyesal sebelum sampai pada tujuan ini. Berbahagialah! Kesempatanmu masih terbuka, tentu saja selama hayat masih dikandung badan.
>>Masalah yang berkah
Hidup tanpa adanya masalah ibarat memakan sayur yang dimasak tanpa garam, hambar. Masalah datang dari berbagai sumber, entah itu dari dalam keluarga, masyarakat, bahkan konflik bathin dalam diri sendiri adalah sebuah masalah. Terkadang seseorang putus asa dengan masalah yang ia hadapi dan ingin bunuh diri saja. Pernah suatu waktu teman saya bercerita bahwa ia pernah mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk cair. Beruntungnya ia hanya merasakan mual saja karena yang ia minum hanyalah sedikit dan Allah masih menyelamatkan nyawanya. Saya lupa siapa orangnya, namun masalahlah yang membuat imannya menurun dan hilang fikiran sehingga memilih jalan yang tidak masuk akal dan menyalahi agama. Ia terlalu terpuruk dengan masalahnya, sementara fikirannya tersumbat oleh ketidaktahuan serta kejauhan dirinya dari Allah.
Sebenarnya dalam kehidupan ini masalah muncul saat iman kita bermasalah. Jika iman kita sehat, tak ada masalah yang benar-benar menjadi masalah. Ia yang kita anggap sebagai masalah hanyalah bagian dari ketidakmampuan diri kita untuk pasrah pada-Nya.
Jangan katakan pada Allah bahwa kita punya masalah yang besar, tapi katakanlah pada masalah bahwa kita punya Allah yang Maha Besar. ~anonim
Wahai jiwa, bangunlah! Bukankah dalam hidup ini Allah telah memotivasi kita dua kali? Satu kesusahan dan dua kemudahan. Ingat dibalik jalan masalah yang susah, ada tujuan yang indah.
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al-insyirah:5-6)
Ia yang terpuruk, biasanya hatinya tergerak untuk semakin dekat dengan Allah, menggerakan keyakinan pada takdir-Nya, bahwasanya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong dan penguat keterpurukan. Maka tidaklah salah banyak orang yang tergugah dan mengambil hikmah dari musibah dan masalah yang telah dilaluinya. Mereka bangkit dari ketidakpastian, mereka mengikis kekecewaan dan membangun keberanian membangun masa depan, inilah sebuah pilihan, inilah sebuah keterikatan, inilah titik awal benih hidayah tertanam dengan indah. Selamat, selamat sahabatku, keyakinanmu yang menghantarkanmu pada pintu gerbang cinta-Nya. Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.
>>Sosmed oh sosmed
Siapa sih yang di zaman sekarang gak punya sosmed? Pasti hampir semua orang di dunia ini memilikinya. Yah, diibaratkan sosmed itu sebagai kebutuhan sekunder yang hampir menyerempet primer. Peran sosial media dalam proses pencarian hidayah adalah hal yang lumrah. Dakwah yang disematkan pada setiap status atau fanspage sosial media (sosmed) bisa menjadi jalan mujarab sebuah perubahan. Ada yang karena sering melihat-lihat dan membaca status tentang keislaman, hukum-hukum dalam islam, serta ilmu-ilmu islam lainnya. Hati kecilnya tergerak dan merubah kehidupannya. Siapa yang menyangka? Toh ini semua benar adanya. Bahwasanya dakwah itu tidak hanya dengan lisan saja, tapi dengan tulisan.
Seorang teman pernah bercerita bahwasanya salah satu penyebab hijrahnya adalah karena membaca salah satu fanspage di facebook yang menuliskan tentang haramnya berpacaran serta dosa-dosa melakukan kemaksiatan. Dari situlah ia menemukan pilihan dan jalan hidupnya, timbullah rasa malu dalam dirinya terhadap kehidupannya. Ternyata simple saja kisah dibalik perjalan panjangnya menuju kata hijrah dan meraih hidayah. Sebuah kesungguhan muncul pada dirinya, yang asalnya dari sebuah tulisan kumuh yang ternyata ampuh. Maka, mulailah dari sekarang untuk mempergunakan sosial media untuk jalan dakwah. Karena kita tidak pernah tahu hati mana yang tergerak karena tulisan-tulisan kita, tetaplah tuliskan hal-hal yang bermanfaat, semoga itu bisa menjadi amal jariyah kita di masa yang akan datang. Nah kamu, iya kamu. Tunggu apa lagi?
>> Semakin mengenal, semakin cinta
Siapakah diantara sahabat yang belum pernah merasakan cinta? Banyak sekali hal yang menumbuhkan cinta, salah satunya adalah dengan mengenal sesuatu lebih dalam. Begitu pun dalam mengenal islam, semakin lama dan semakin dalam mengenal mengenal ajarannya maka akan semakin tumbuhlah rasa cinta di dalam dada. Kecintaan inilah yang menghantarkan pada sebuah perubahan kehidupan, baik dalam pandangan, hati, dan juga perilaku. Sahabatku, coba renungkan sudah sejauh manakah engkau mengenal si Dia dibandingkan si dia?
Bukankah banyak dari para pendeta yang masuk islam dikarenakan ia mempelajari islam dan menemukan keindahan-keindahan di dalamnya. Terbukti bahwa, semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka akan semakin cintalah ia kepada agama islam. Hatinya tergugah, hatinya terbuka dan menjadikan apa yang ia pahami sebagai landasan keimanannya. Ah, sudahlah. Saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang iman, yang jelas dengan imanlah cinta itu tumbuh, dan dengan islamlah iman itu hidup, lalu dengan ilmulah cinta itu abadi.
Ilmu tanpa iman luntur, iman tanpa ilmu ngelantur
Kecintaan yang tumbuh pada diri seseorang akan semakin bertambah dengan semakin kenalnya ia pada sesuatu yang membuatnya jatuh cinta. Bagaimana cara menjatuhkan diri dalam kecintaan terhadap islam? Caranya adalah dengan memasrahkan hati, jiwa, fikiran, dan urusan hanya kepada Allah saja. Menjalani apa yang semestinya dijalani, melakukan apa yang semestinya dilakukan, dan selalu ikhlas serta rela menerima nasihat-nasihat baik dari orang lain. Mungkin kebanyakan dari kita adalah orang yang enggan bahkan sulit untuk membuka telinga bagi nasihat-nasihat baik dari orang-orang kita. Memang terkadang nasihat baik itu tidak tersampaikan dengan baik, bahkan sering tersampaikan dengan cara yang pahit. Seperti yang pernah guru saya katakan, “nasihat itu pahit, jika tidak pahit itu bukan nasihat namanya”, setujukah sahabat?
Kembali kepada keimanan yang telah menjadi kecintaan dan suatu kebutuhan terhadap sebuah kehidupan. Hal inilah yang menggugah hati kecil individu untuk berubah ke jalan yang lebih indah. Maka jangan sampai ilmu yang kita miliki tidak bertambah, membuat hati keruh dan menjadikan diri sombong. Karena hakikat ilmu sebenarnya adalah yang senantiasa membuat kita takut kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan ada lagi yang Maha Mengetahui” (QS Yusuf:76)
Aku menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali karena Allah
Tenang sahabatku, tulus itu tak akan menemukan kecewa
Berbahagialah ia yang berubah karena ilmu
Berbahagialah ia yang beriman karena ilmu
Berbahagialah ia yang mencintai karena ilmu
Sahabatku, berhati-hatilah dari kejahatan ilmu yang tidak diiringi dengan iman, ia tak akan menjadi teman apalagi menyelamatkan, melainkan akan menjadi lawan yang akan menghancurkan. Na’udzubillaah.
“Tertanda hati dalam secarik tulisan ini, sungguh terbesit sekali dalam diri, kesejukkan dan keindahan hidayah yang tak nampak, hanya hati terenyuh menyapanya, hanya hati terharu menjaganya, hanya hati tertatih mempertahankannya.” ~RN
Setelah banyak perjalanan yang dapat membuat seseorang sampai pada pintu gerbang hijrah dengan kendaraan hidayah tentunya, akan muncul perasaan-perasaan haru, terkejut, tenang dan merasa memiliki sesuatu yang memang patut dipertahankan. Apa sih itu? Yups, engkau telah mengetahuinya sahabatku, ialah “Hidayah”, satu kata yang tengah menjadi kerinduan bagi orang-orang yang memang ingin menggapainya, satu kata yang menjadi sebuah kekuatan bagi orang-orang yang pernah terpuruk di masa lalunya, satu kata yang patut diresapi dan direnungi bahkan dipertahankan oleh mereka yang tengah mengecap manisnya iman. Diibaratkan saat ini kita tengah menggenggam bara api, dimana saat bara api tersebut terus kita genggam tentulah kita akan merasakan panasnya. Namun, saat dia kita lepaskan, kita memang terbebas dari panas itu, namun hilanglah cahaya, dalam arti hilanglah keimanan dalam diri kita. Na’udzubillaah.
Ibnu Taimiyyah berkata: “Betapa malangnya penduduk dunia yang keluar dari dunia ini tanpa sempat merasakan hal yang paling manis di dalamnya.” Beliau pun kemudian ditanya, “Apakah gerangan hal yang paling manis di dunia ini?”, beliau menjawab, “mencintai Allah adalah yang paling manis di dunia ini.”
Adakah yang lebih mengharukan dari kalimat ini? Saya tekankan lagi kalimat yang beliau ucapkan, “mencintai Allah adalah yang paling manis di dunia ini.” Resapi kata-kata ini sahabatku. Tidakkah ia menggugah hatimu?
Orang yang telah melewati lika-liku perjalanan dalam pertemuannya dengan hidayah, akan dengan tenang mengatakan bahwa hidayah adalah anugerah terindah, hidayah adalah barokah, dan hidayah adalah sebaik-baik celah. Celah apa? Celah menuju keridhoan-Nya. Selamat menjemputnya sahabatku, selamat merasakan indahnya. Semoga Hijrahku, hijrahmu.. hayuuuk hijrah sama-sama :)
Beberapa kutipan bersumber dari buku Amru Khalid "Ibadah Sepenuh Hati"
Semoga bermanfaat yaaakkkk~~~
Senin, 27 Maret 2017
Senja, tahukah ? Sejak tiga tahun lalu, sejujurnya aku tidak pernah tahu lagi isi hatimu. Karena terkadang perkataan tidak selalu mewakili isi hati. Entah perkataan itu hendak sepanjang atau sependek apa pun. Yang aku tahu, engkau adalah lelaki labil yang belum bisa memilih, masih ingin bermain-main saja dengan duniamu.
Senja, aku sedang dalam proses hijrah. Bukan, bukan berarti aku menghakimimu pendosa, atau bahkan kafir. Kau harus tahu, aku ini bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa. Aku seorang pendosa yang selalu mencoba memperbaiki diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan kau, kau adalah cahaya yang kian hari meredup seakan menjauh dari kehidupanku.
Sebenarnya, bolehkah aku menuliskan ini ? tak ada maksud memintamu kembali pada langit soreku, hanya saja hatiku tak kuasa menahan tulisan ini tuk keluar melalui jemariku. Berkelanalah, sesukamu. Aku tak akan melarang apalagi mencegahmu. Kau tentu tahu mana yang terbaik untuk hidupmu, bukan? Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, mendengar kisahmu samar-samar dari mereka-mereka yang tahu tentangmu. Karena aku sadar, aku tak lagi tahu tentangmu dari lisanmu.
Aku menjauh. Ini adalah fase sebelum aku benar-benar menghilang. Entah itu hanya menghilang dari duniamu, ataukah menghilang dari dunia ini. Yang aku tahu, engkau sudah tidak mau lagi mendengarkan kisahku hari kemarin dan harapanku dihari esok. Biarlah, aku tak apa :’) . aku tak apa kau meninggalkanku, asal jangan kau tinggalkan Allah dan kewajibanmu :)
*biarkan kita saling melambai, jalan kita masih panjang. Semoga silaturahmi akan tetap terjalinkan.
Sahabat jadi cinta, banyak. Tapi cinta jadi sahabat ? semoga saja, semoga tidak ada kebencian. Sukses selalu. Raihlah apa yang kau cita-citakan. Tak perlu menengok ke belakang, cukup seperlunya saja. Karena di depan ada masa depan, jemputlah ia. Siapa pun itu. Sampai jumpa di pelaminan, entah duduk disampingmu atau pun hanya sekedar duduk di kursi undangan. :D
Selasa, 17 Januari 2017
Klimaks
Ada yang aneh dengan negeri ini
Sesuatu yang harusnya terselesaikan, malah semakin rumit terbengkalai
Kebenaran tenggelam, sulit tuk ditemukan
Yang baik bungkam, yang buruk melambung tinggi tertiup kebencian
Ada yang lebih kencang dari angin topan
Ada yang lebih panas dari matahari
Ada yang lebih dingin dari es
Pernahkah belajar fisika?
Gesekan memiliki dua sisi berbeda
Ada kalanya menguntungkan
Ada kalanya merugikan
Kebingungan atas keberpihakan
Membuat nurani terjerembab pada ketidak pastian dan ketakutan
Hanya takut salah menempuh jalan
Hanya takut salah memilih pengemban amanah
Rakyat menjerit, namun sekitar seakan tuli
Terbius argumen sendiri
Ego dilambungkan
Keadilan diduakan
Lalu, akan menuntut keadilan pada siapa rakyat ini?
Mengapa demonstrasi mengudara?
Mengapa sumpah serapah menjadi senjata?
Mengapa kebencian merajalela?
Jawabnya ada pada jiwa
Sudah sepeduli apakah pada Indonesia?
Apa hanya merenggut kenyamanan dan kebebasan semata?
Kebahagiaan bukankah tidak akan lama?
Kebermanfaatan untuk sesama adalah yang utama
Wahai, pemimpin
Wahai, pengemban amanah
Wahai....
Kemana lagi rakyat harus mengadu?
Apa harus meminta belas kasihan tetangga?
Andai tak mampu, katakan saja
Tolong jangan bersembunyi dibalik manisnya kata
Rakyatmu ini butuh rengkuhan
Bukan ancaman
Bukan tekanan
BUKAN!!!!!!!!
Kemarilah, kembali pada yang Esa
Berhentilah, berhenti merasa
Tenggelamkan ego hingga ke dasarnya
Jangan biarkan muncul ke permukaan dan tumbuh subur
Yang kuat bukan mereka yang menang karena egonya
Tapi yang kuat, ialah mereka yang mampu meredam amarahnya
Kembalilah, kembalilah
Ulurkan tangan, rendahkan hati, dan kembangkan senyum
Berhentilah, berhentilah
Berhenti membenci dan berhenti mencaci
Jayanti, 16 januari 2017
Ada yang aneh dengan negeri ini
Sesuatu yang harusnya terselesaikan, malah semakin rumit terbengkalai
Kebenaran tenggelam, sulit tuk ditemukan
Yang baik bungkam, yang buruk melambung tinggi tertiup kebencian
Ada yang lebih kencang dari angin topan
Ada yang lebih panas dari matahari
Ada yang lebih dingin dari es
Pernahkah belajar fisika?
Gesekan memiliki dua sisi berbeda
Ada kalanya menguntungkan
Ada kalanya merugikan
Kebingungan atas keberpihakan
Membuat nurani terjerembab pada ketidak pastian dan ketakutan
Hanya takut salah menempuh jalan
Hanya takut salah memilih pengemban amanah
Rakyat menjerit, namun sekitar seakan tuli
Terbius argumen sendiri
Ego dilambungkan
Keadilan diduakan
Lalu, akan menuntut keadilan pada siapa rakyat ini?
Mengapa demonstrasi mengudara?
Mengapa sumpah serapah menjadi senjata?
Mengapa kebencian merajalela?
Jawabnya ada pada jiwa
Sudah sepeduli apakah pada Indonesia?
Apa hanya merenggut kenyamanan dan kebebasan semata?
Kebahagiaan bukankah tidak akan lama?
Kebermanfaatan untuk sesama adalah yang utama
Wahai, pemimpin
Wahai, pengemban amanah
Wahai....
Kemana lagi rakyat harus mengadu?
Apa harus meminta belas kasihan tetangga?
Andai tak mampu, katakan saja
Tolong jangan bersembunyi dibalik manisnya kata
Rakyatmu ini butuh rengkuhan
Bukan ancaman
Bukan tekanan
BUKAN!!!!!!!!
Kemarilah, kembali pada yang Esa
Berhentilah, berhenti merasa
Tenggelamkan ego hingga ke dasarnya
Jangan biarkan muncul ke permukaan dan tumbuh subur
Yang kuat bukan mereka yang menang karena egonya
Tapi yang kuat, ialah mereka yang mampu meredam amarahnya
Kembalilah, kembalilah
Ulurkan tangan, rendahkan hati, dan kembangkan senyum
Berhentilah, berhentilah
Berhenti membenci dan berhenti mencaci
Jayanti, 16 januari 2017
Langganan:
Postingan (Atom)

